Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung, Permata Kabupaten Ngada

Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. (jarangpulang.com/Nanda Reza)

Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung

Terhampar seluas 9.900 hektar, Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung terdiri dari laut dan daratan. Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung merupakan kawasan konservasi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Kupang.

Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Keindahan pasir putih di Pulau Rutong, Pulau Tembang, Pulau Bampa, dan Pulau Tiga menjadi magnet yang kuat bagi wisatawan. Disamping itu, beraneka ragamnya terumbu karang dan gelombang yang cukup tenang menjadikan kepulauan ini nyaman untuk melakukan penyelaman atau sekadar snorkelling.

Pemandangan dari atas bukit di Pulau Rutong, Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung

Sebagian besar orang mengetahui komodo (varanus komodoensis) hanya ada di Taman Nasional Komodo. Padahal ada beberapa tempat lain di pulau flores yang menjadi habitatnya. Salah satunya di Pulau Ontoloe yang ada di kawasan Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung. Tapi memang populasi komodo di Pulau Ontoloe tidak sebesar di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat. 

Pulau Ontoloe merupakan pulau terbesar di Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung dengan padang savana dengan pohon lamtoro yang tersebar luas. Rusa Timor merupakan mangsa mamalia besar bagi komodo juga diperkirakan hidup di Pulau Ontoloe.

Di samping itu ada pula monyet ekor panjang, burung gosong, camar laut, dan yang paling banyak adalah kelelawar besar atau kalong. Tercatat 33 ribu kalong hidup di hutan mangrove pulau ontoloe. Ketersediaan makanan yang melimpah dan ekosistem yang mendukung, menjadikan pulau ini habitat yang nyaman bagi komodo untuk berkembang biak. 

Kalong yang hidup di hutan mangrove Pulau Ontoloe, Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung

Wisatawan yang ingin menuju Taman Wisata Alam 17 Pulau Riung, dapat menggunakan transportasi udara dari Denpasar (Bali) menuju bandara Soa (Bajawa). Lalu melanjutkan perjalan darat menggunakan travel selama kurang lebih 2 jam. 

Jika kita sebelumnya singgah di Desa Wae Rebo, kita dapat melanjutkan perjalanan dari Ruteng menggunakan bus atau travel menuju Terminal Watujaji di Bajawa. Lalu melanjutkan dengan travel lain menuju Kecamatan Riung selama 3 jam perjalanan. 

Terdapat beberapa lodge, guest house dan penginapan di Kecamatan Riung dengan tarif yang sangat terjangkau bagi wisatawan backpacker. Anda akan disuguhi dengan kopi arabica bajawa dengan kue sebagai pendampingya.


Menyibak Awan, Menjamah Desa Wae Rebo

Suasana tanah lapang di antara ketujuh mbaru niang, Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo

"Serpihan surga diatas awan", begitu traveler sering menyebut desa ini. Terletak 1200 meter di atas permukaan laut, menuju Desa Wae Rebo seperti menyibak awan untuk menikmati keindahannya.

Tidak mudah untuk mencapai Wae Rebo bagi pendaki pemula yang hanya sesekali naik gunung. Perlu keringat yang lebih banyak daripada biasanya untuk mendakinya. Namun pemandangan yang luar biasa indah akan menyapu bersih rasa capek dan dahaga yang kita rasa. 

Terletak di sebelah barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Rebo terletak di atas gunung. Kendaraan bermotor hanya mampu mengantarkan kita sampai titik awal pendakian, sekitar 7 kilometer sebelum masuk desa Wae Rebo. Setelah itu, kita hanya bergantung pada kekuatan kaki dan nafas di dada untuk melanjutkan perjalanan dengan trek yang curam selama 3 sampai dengan 4 jam. 

Untuk menuju ke Desa Wae Rebo, pengunjung harus memulai perjalanannya dari Ruteng. Jika dari Kupang, bisa langsung menuju Ruteng lewat jalur udara. 

Opsi lain, dapat mengambil penerbangan dari Denpasar (Bali) menuju Labuan Bajo (NTT) lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus atau travel menuju Ruteng yang memakan waktu sekitar 4 sampai dengan 5 jam. 
Sesampainya di Ruteng, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Desa Denge atau Dintor selama 2 jam. Melalui jalan terjal berbatu dengan menggunakan truk kayu atau warga lokal menyebutnya "otto kayu" yang dapat di temukan di Terminal Mena sekitar pukul 09.00 sampai 10.00 pagi. 

Opsi kedua adalah dengan ojek dari Ruteng menuju Desa Denge. Ojek menjadi alternatif perjalanan jika anda tertinggal jadwal otto kayu. Dengan tarif yang lebih mahal, bisa mencapai Rp 150.000 sampai dengan Rp 200.000 sekali jalan. 

Jauh berbeda jika menggunakan otto kayu yang hanya dikenakan tarif Rp 30.000 sampai dengan Rp 50.000 per kepala. 

Sampai di denge, ada sebuah home stay yang dapat digunakan untuk menginap. Dekat dengan home stay tersebut terdapat pusat informasi dan perpustakaan. 
Desa Wae Rebo dari kejauhan

Setiba di Desa Wae Rebo, sambutan dari penduduk yang ramah dan pemandangan indah seolah menghapus kelelahan yang didapat dari perjalanan panjang dari Desa Denge.  

Disini kita tidak akan menjumpai home stay atau penginapan, karena disini hanya terdapat 7 rumah adat saja, atau penduduk Desa Wae Rebo menyebutnya Mbaru Niang. Tapi kita bisa menumpang di rumah adat milik masyarakat untuk menginap. 
Wisatawan disambut hangat oleh warga Desa Wae Rebo, dengan suguhan makan siang dan kopi lokal

Terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut dari ilalang yang dianyam, ketujuh rumah adat ini sudah bertahan turun temurun selama 19 generasi. 

Tujuh Mbaru Niang bersusun membentuk setengah lingkaran mengitari tanah lapang yang luas dengan bukit-bukit indah di sekeliling Desa Wae Rebo. Terletak di atas gunung, Desa Wae Rebo memiliki hawa yang sejuk menusuk kalbu, mengingatkan kehidupan yang tenteram tanpa polusi di masa lalu. 

Penjemuran kopi oleh warga lokal Desa Wae Rebo

Selain daya tarik rumah adat, kehidupan masyarakat Desa Wae Rebo juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian masyarakat bercocok tanam dan wanitanya membuat tenun. Selain itu, ada pula yang mengelola kebun kopi. Kopi Desa Wae Rebo merupakan salah satu kopi terbaik di daratan Flores. 

Desa Wae Rebo merupakan situs bersejarah warisan budaya dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2012 yang lalu. 

Menyapa Kilisuci, Belajar Memahami Jati Diri


Gua Selomangleng, Kota Kediri. Bisa dibilang aku ke sini sudah beratus kali. Sejak aku masih kecil sampai sekarang, seminggu bisa sampai 3 kali. Namun dulu masuk ke dalamnya adalah tabu. Alasannya gelap, dan yang paling parah didekap setan sampai tak bisa pulang. Ada juga para orang tua yang mengatakan itu tempat mistik, dan jika masuk ke lorong selatan, kau akan sampai ke Parangtritis. Bayangkan cerita itu pada saat engkau berusia enam tahun, yang bahkan engkau enggak tahu dimana Parangtritis itu berada. Alahasil, dulu kalau ke sini hanya naik ke atasnya, memutari bukitnya, dan paling kenceng anguk - anguk di mulut gua. Saat sudah tau dimana itu Parangtritis, rasanya cerita itu semakin hebat saja.

Gua Selomangleng ini adalah gua buatan manusia dengan memanfaatkan blok batu besar di lereng Bukit Klotok, Kaki Gunung Wilis. Dan dari posisi batu ini berada, gua ini mendapatkan namanya : Selomangleng, yang berarti batu lereng gunung yang menumpang pada kaki bukit. Betapa susahnya menjelaskan kata mangleng ke dalam Bahasa Indonesia, serupa dengan menjelaskan kata : Kejlungup atau Kunduran.

Nyatanya setelah aku SMA, aku baru tau apa yang ada di dalam gua ini. Dan dari Selomangleng, aku tahu apa itu relief dan bagaimana bentuknya. Relief Selomangleng adalah relief pertama yang aku lihat dan aku sentuh. Sempat aku membawa senter ke sini untuk tahu bagaimana relief - relief itu. 


Pagi itu, tiga keponakanku ribut minta renang. Kolam renang terdekat dengan biaya paling murah adalah kolam milik pemkot. Lokasinya satu komplek dengan Selomangleng. Kawasan ini dikembangkan dengan tidak maksimal sebagai Kawasan Wisata Unggulan Kota Kediri : Selomangleng. Kawasan ini sebenarnya sangat menarik dan keren. Namun, kurang mempunyai pola dasar pengembangan yang tepat, alias seperti kehilangan jati diri. Gua Selomangleng yang kebetulan berada di paling ujung dari komplek ini seakan tenggelam dengan hiruk pikuk yang salah arah. Adanya Museum Airlangga sebenarnya menegaskan bahwa kawasan ini bersama situs lain terdekat yakni Situs Boncolono dan Pura Agung Penataran Kilisuci sebenarnya lebih cocok diarahkan sebagai kawasan konservasi sejarah. Belum ditambah adanya situs Gua Selobale, Gua Padedean, dan Candi Klotok, dapat menjadikan tempat ini sebagai gerpang masuk kesejarahan yang lengkap. Bukan bercampur dengan tempat wisata hiburan berupa kolam renang, arena bermain, dan pertunjukan dangdut. 

Setelah renang, sebenarnya mereka minta segera pulang. Tetapi, aku tak ingin sejarah masa kecilku terulang kembali ke mereka, tabu akan Gua Selomangleng ini. Mereka sebenarnya juga sudah sering ke sini, minimal setiap minggu pagi, untuk olahraga, beli pentol, atau memanjat ke atas gua. Kali ini, di usia mereka yang sama kayak aku dulu 8, 9 , dan 10 tahun, aku ajak masuk ke dalam Selomangleng untuk mengenal apa itu relief. 

Semula, mereka mengeluh : untuk apa om ? Takut ah om !. Namun, dengan iming - iming segala hal, akhirnya mau. Goal pertama, mereka pernah masuk dan melihat bahwa gua ini cantik dan perlu dipelajari. Supaya enggak kehilangan jati diri.


Bagian paling depan dari areal  Gua Selomangleng adalah pelataran yang lumayan luas. Pelataran ini dilindungi oleh pohon - pohon besar di sekelilingnya, sayang salah satunya baru ambruk ke arah tenggara, menimpa pagar luar kolam renang. Pelataran ini biasanya digunakan untuk pertujukan seni dan upacara ritual.

Ada beberapa artefak berserak di pelataran ini, tepatnya di kaki gua. Artefak itu berupa dua potongan fragmen yang kemungkinan adalah kaki suatu bangunan, satu arca dwarapala tanpa kepala, dan batu gilig berbentuk sepeti belimbing wuluh.


Bisa diperkirakan bahwa artefak berserak ini merupakan pecahan meja altar dan dwarapala arca penjaga Gua Selomangleng pada awal pendiriannya. Dwarapala Selomangleng memiliki ukiran detail yang lengkap. Dwarapala ini dalam posisi duduk jongkok satu kaki di atas batu yang berukir tengkorak. Selain membawa gada, Dwarapala ini juga memegang cambuk. Cambuk ini cukup panjang, dipasang dari genggaman tangan, ke atas pundak, lalu menuruni punggung secara diagonal, melingkar dipinggang, melewati perut dan ujungnya ada digenggaman pada tangan yang sama. Pakaian dan asesorisnya cukup lengkap, dari kain yang menutup pinggang sampai lutut yang dikunci dengan sabuk, gelang kaki, gelang tangan, dan ikat lengan serta penutup dada berupa kalung yang cukup lebar. Rambut yang ada di punggung menunjukan rambut ikal panjang melingkar - lingkar. Selain itu, dwarapala ini juga memakai ikat dada. 


Patahan meja altar yang sekarang ditempatkan kiri dan kanan menampilkan sebuah keambiguan menjadi sepasang patahan gapura. Pada patahan ini dihias motif suluran daun dan motif berawan.


Kaki gua sudah di hiasi oleh hiasan awan yang terus berlanjut hingga ke ruang - ruang dalam gua. Awan - awan ini mengingatkan akan tempat tinggi di atas awan berupa kahyangan. Aku tak berspekulasi kalau gua ini sebagai kahyangan, namun gua ini sebagai tempat meditasi yang tak lain adalah tempat belajar, merenung, menenangkan diri untuk mendapatkan barokah serta petunjuk Gusti Allah yang ada di kahyangan. Atau juga bisa diartikan sebagai tempat belajar yang utama ( tinggi ) semacam tempat pendidikan spiritual paripurna.

Ada pula pemikiran bahwa ini bukan awan melainkan kabut yang menutupi suatu kebenaran. Sehingga agar mendapatkan kebenaran hakiki, dibutuhkan mata yang tajam dan pengetahuan yang tinggi.


Pada dinding depan sekitar 5 meter dari mulut gua terdapat sebuah ceruk dengan tinggi setengah meter, sepertinya merupakan relung untuk arca atau mungkin juga tempat pedupaan. Sepanjang dinding dari ceruk menuju pintu gua juga dihiasi relief awan.



Gua Selomangleng memiliki dua pintu masuk kiri dan kanan. Ukuran pintu ini cukup tinggi dan lebar, sehingga memudahkan untuk masuk. Namun dari bagian lantai gua, nampak kalau sebenarnya lubang mulut gua ini diperlebar dengan cara dicongkel. Menurut cerita orang tua, memang pintu ini tak selebar sekarang. Pintu kiri memiliki bentuk mendekati lingkaran, sedangkan pintu kanan berbentuk mendekati persegi dengan gerigi di langit - langit yang berhiaskan relief awan.

Gua Selomangleng mempunyai empat ruang, terbagi dua di kanan dan dua di kiri. Dua ruangan dapat dilihat tanpa bantuan senter, dan dua lainnya gelap gulita tak tembus cahaya.

Ruang Pertama ( Ruang Pertapa )

Mulai penelusuran melalui pintu sebelah kiri. Didekat pintu ini terdapat relief besar berbentuk kepala naga. Kepala naga ini bernama Butolohcolo, penjaga setia Dewi Kilisuci. Naga dalam cerita pewayangan merupakan ujian kemantapan hati dalam melaksanakan tugas atau laku spiritual. Seperti dikisahkan dalam cerita Dewa Ruci, dimana Sang Werkudara diperintahkan Guru Drona untuk mencari air suci di laut, namun dalam perjalanan dia dihadang Naga yang selanjutnya menguji keteguhannya. Sayang kondisi relief naga ini sudah tidak utuh. Lehernya tampak dicongkel dan ujung mulutnya terpotong. Ada yang bilang ujung mulut atau congor nogo ini terbuat dari batu mulia, sehingga itulah sebabnya batu itu dipotong alias dicuri. Relief naga ini dibingkai dengan relief awan. 



Ruang pertama ini merupakan ruang dengan hiasan paling banyak dibanding ruang - ruang yang lain. Sentral point dari semua relief di ruang pertama adalah relief pertapa.



Relief pertapa ini berada di tengah dan ditempatkan di atas batur, serta dibingkai dengan relief awan.Jika ditilik lebih jauh, pertapa ini adalah sosok perempuan, sehingga dikaitkan dengan sosok Dewi Kilisuci. Posisi pertapa ini duduk bersila dengan tangan bertemu di bawah pusar. Tampak menggunakan pakaian sederhana dan tanpa perhiasan, sedangkan rambut tampak diurai. 

Sebelah kanan terdapat relief manusia laki -laki dan perempuan di dalam sebuah bangunan sedang melakukan hubungan intim. Di bawah bangunan ada figur manusia yang menopang bangunan, dan di sebelahnya ada seorang penari. Hiasan berupa pagar dan tanaman turut menghiasi relief ini.



Jika ditilik lebih dalam relief di sebelah kanan ini adalah penggambaran kesenangan duniawi, yakni nafsu syahwat dari adegan figur laki -laki dan perempuan berhubungan intim. Kemudian nafsu menguasai dari gambar manusia menopang bangunan. Manusia di bawah bangunan ini menunjukan bahwa manusia tersebut dikuasai orang di atas bangunan, dan melakukan apapun sesuai perintahnya demi kesenangannya. Orang menari mewakili nafsu bersenang-senang. 

Sebelah kiri relief pertapa, terdapat relief pegunungan dan ceruk tempat pelita di bagian atas. Relief pegunungan ini menunjukan akan kondisi lingkungan duniawi yang indah. Selain itu relief pegunungan yang memanjang sampai pintu ruang di sebelahnya ini juga berarti medan yang tidak mudah dan panjang untuk sampai pada pencerahan batin atau keberkahan Gusti.

Maka jika dipandang menyeluruh pertapa sedang menghindarkan diri dari godaan nafsu dan keindahan duniawi untuk mendapatkan ketenangan batin, serta mencari makna hidup melalui jalan menyepi ke pegunungan dengan medan yang sulit. Medan sulit bukan hanya mewakili medan pegunungan secara denotatif tetapi juga medan pikiran yang saling bersilang tentang.



Ruang Ke-Dua ( Ruang Budha )

Ruang Ke-Dua berada di sebelah kiri ruang pertama. Ruangan ini memiliki lantai yang lebih tinggi sehingga dibuatkan anak tangga. Tinggi pintu juga lebih pendek daripada pintu utama. Baik di kanan maupun di kiri pintu dihiasi dengan relief pegunungan. Kondisi di dalam ruang ini gelap, sehingga membutuhkan bantuan cahaya senter. Namun saat memandang pintu ruang ini, seluruh keponakanku kalang kabut minta keluar, saat aku minta memegangkan HP untuk menyalakan senter, mereke menolak dan buru-buru ke arah pintu utama. Alasannya takut dan merasa sesak napas. 



Hiasan pada ruang ke dua ini adalah Relief Budha yang sedang bertapa dengan sikap tangan Dharma Cakra Mudra yang melambangkan gerak memutar dharma. Di sekeliling kepala budha tersebut ada hiasan lingkaran melingkar dengan pahatan ke dalam, seperti lambang cahaya.
Menilik dengan relief sebelumnya, maka pertapa dengan laku spiritualnya sudah mendapatkan pencerahan. Selain relief tersebut, kesemua dinding ruang ke dua kosong tanpa hiasan.

Ruang Ke-Tiga ( Ruang Garuda )



Untuk menuju ruang ke tiga, kita perlu kembali ke ruang pertama dan melalui pintu penghubung yang berbentuk lingkaran penuh hiasan awan, tanpa perlu keluar gua. Di sebelah kiri pintu ini terdapat bentangan panjang relief yang padat, rapat, dan berbagai figur. Bentangan ini dipisahkan oleh sebuah tiang dengan pondasi yang besar, dengan ujung justru ditutup oleh gambar pohon beringin. Sebelah kiri dari pembatas ini menampilkan gambar yang menyenangkan berupa bangunan-bangunan indah berikut taman dan pemandangan alam beserta figur-figur manusia yang tampak bahagia, serta ada gambar senjata berupa pecut. Ini merupakan gambaran surga atau kahyangan, sedang cemeti itu merupakan bentuk usaha yang tak kenal lelah untuk mencapainya. Sedangkan gambar sebelah kanan, justru menggambarkan hal yang mengerikan. Ada dua figur orang tergeletak dan beberapa gambar tengkorak yang terbakar api. Ini seperti penggambaran neraka.



Jika pada ruang pertama pandangan akan mengarah ke pertapa, di ruang ini justru setelah masuk dari pintu utama sebelah kanan, hanya ada dinding kosong. Namun dasar dinidng dibuat lebih tinggi, setinggi lutut, yang bagian paling kanan dekat tembok pembatas kanan dibuat lebih tinggi lagi. Bidang ini seperti amben lengkap dengan bantal. 

Dinding baik di kanan atau di kiri di hiasi oleh relief awan. Pada bagian atas pintu sambungan ke ruang satu ada relief garuda memegang ular. 



Relief ini menggambarkan kebaikan yakni garuda atau garudeya dan kebatilan yakni ular sedang bertarung. Pertarungan ini adalah pertarungan keabadian tiada akhir. Relief ini mewakili simbol Dewa Wisnu. Relief ini menjadi reilef ikonik di ruangan ini.

Ruang ke-Empat ( Ruang Pedupaan )



Ruang ke empat berada di sebelah kanan ruang ke tiga. Sebelum memasuki ruang ke empat, kita harus melewati pintu tinggi dengan hiasan kala di atasnya, dan hiasan medalion di kanan dan di kiri pintu.



Kala pada pintu ini memiliki tangan dalam posisi penggenggam. Selain itu juga memakai kalung dan dibingkai dengan relief awan. Pada kusennya terdapat relief suluran.




Ruang ke empat memiliki bentuk kubus, berbeda dengan ruang ke dua yang berbentuk setengah lingkaran. Persamaannya sama - sama gelap. Namun ruang ke empat lebih pengab, dan terdapat banyak bekas jelaga, asap dari pedupaan bertahun-tahun yang turut menutup relief. Relief pada ruang ini samgat tipis, yang paling menonjol adalah adanya meja pemujaan yang bawahnya berongga. Diduga rongga ini merupakan tempat pedupaan. Hiasan di kanan kiri meja pedupaan ini berbentuk seperti perisai, dan di atas meja pedupaan hanya terdapat hiasan bingkai, namun apa yang dibinglai tak tampak. Mendekati langit - langit kanan atas ada relung tempat pelita. 

Aku tak sempat menilik lebih jauh karena keponakan keburu meraung merasa semakin takut. Tetapi setidaknya aku sudah mengajak mereka ke sini dan menjelaskan kalau ini bukan tempat tabu. Kita perlu menghormati dan ada pelajaran di sini. Gua Selomangleng ini nyatanya juga monumen toleransi tingkat tinggi pada masanya antara pemeluk agama Budha, diwakili dengan adanya relief Budha di ruang ke 2 dan Hindu, diwakili relief simbol Dewa wisnu pada ruang ke tiga. 

Sebelum pulang, aku sempat mengambil gambar keponakan di dalam dan pelataran gua. Aku memberi judul : Kami Tidak Takut Belajar Sejarah.



Keponakan pemberani jagoanku, ada Putra, Radit, dan Aufa juga Alfan yang datang belakangan. Kita harus berani belajar, dan menghormati sejarah kita sendiri.



Hanya Aufa yang sudi di foto di depan pintu ruang ke IV, itupun dengan ekspresi ketakutan dan segera ingin pulang. Oke adik - adik kita pulang, sebelumnya mari kita makan siang. Semoga kalian berkesan dan hari ini tak terlupakan.




Selomangleng
Ilmu dan Ibadah tak boleh oleng
Jangan juga kepala dan hati kosong seperti kaleng

Kediri
Kemana pun pergi
Engkau tempat untuk kembali



Gua Selomangleng adalah salah satu dari tiga mandala yang ada di Bukit Klotok. Sama seperti kosmologi Borobudur yang terdiri dari Kamadatu, Rupadatu dan Arupadatu, maka Gua Selomangleng adalah Kamadatu. Sebagai Kamadatu maka tak heran jika di sini banyak sekali hiasan relief untuk membantu para pertapa untuk memulai perjalanan spiritual tingkat dasar. Rupadatu diwakili oleh Gua Selobale yang ada di atas bukit belakang Selomangleng yang memeiliki hiasan Arjunawiwaha, yakni Arjuna bertapa diganggu bidadari, yang melambangkan proses perjalanan spiritual tingkat menengah yang sudah mencapai pencerahan namun masih terikat rupa dan bentuk. Sedangkan tingkatan paling atas, atau Arupadatu, diwakili oleh Gua Padedean yang berada di atas bukit belakang Gua Selobale. Gua Padedean memiliki bentuk relung persegi panjang dengan ukuran kurang lebih panjang 3 meter, tinggi 2 meter dan dalam 1,5 meter dengan tanpa hiasan apapun, yang menggambarkan pencapaian pencerahan spiritual tertinggi yang sudah tidak tergantung lagi pada rupa dan bentuk.

Hujan Jatuh di Penampihan


Wilis, bukanlah gunung. Bentuknya yang panjang dan lebar serta membentang di enam kapubaten menjadikannya sebagai bentukan alam yang dikuasai oleh bupati terbanyak di Jatim. Jika dibanding Semeru, memang kalah tinggi, dan Wilis masuk dalam kategori gunung tidur. Wilis mempunyai banyak puncak, dan setiap puncak memiliki jalur pendakiann sendiri-sendiri. Puncak yang paling tinggi adalah Puncak Liman, Ngliman-Nganjuk setinggi lebih dari 2600 mdpl. Jarak antar puncak bisa dikatakan jauh dan medan penghalangnya adalah ngarai-ngarai dalam dan punggungan bukit-bukit lain yang tak pernah dijamah manusia. 

Hari itu, aku diminta Khafid untuk menemaninya untuk menemani adiknya bersama rombongannya yang hendak mendaki Wilis melalui Jalur Penampihan Sendang - Tulungagung. Mereka sudah SMA, namun keluarga Khafid sangat khawatir karena si Adik tak mau jujur saat pamit.

Sejenak aku membaca blog beberapa pendaki tentang Jalur Pendakian ini. Aku belum pernah, dan aku yang nanti bakal jadi yang paling tua, ya tua Khafid sebenarnya, sudah membaca medan secara literasi. Rata - rata menyebutkan pendakian ini ditempuh dalam waktu enam jam langsung puncak, dengan vegetasi yang rapat, basah dan banyak pacet siap menghisap darah.

Pagi, 20 Desember 2016, pas musim hujan yang sedang basah - basahnya adalah tanggal pendakian pilihan mereka. Kita akan bertemu di Ngadiluwih pukul satu siang. Maka, aku dan Khafid berangkat pagi dari Soerabaja, karena kami harus mampir rumah Khafid di Janti untuk mengambil beberapa perlengkapan dan belanja perbekalan. Tak perlu mampir rumahku, karena nanti alamat aku gak jadi berangkat. 

Jalanan Surabaya ke arah Kediri cukup lengang, dan pukul sepuluh pagi, kami sudah mampir sarapan di Pecel Punten : Mbenjeng Mriki Maleh Nggeh di Ketami - Pesantren, dekat Janti. Khafid yang takut digigit pacet memilih membawa Mbako lumayan banyak. Setelah segalanya siap, kami berangkat menuju Ngadiluwih.

Seingatku, kami bertemu romobongan si Adik yang berjumlah lima orang lelaki SMA itu di Keras, kecamatan di selatan Ngadiluwih. Lalu, kami mampir belanja di Ngantru. Ada sedikit perbekalan belum terbeli. Gaya anak SMA memang membuat pengen SMA lagi. Mereka yang masih kelas dua sudah mendaki gunung. Salah seorang rekannya sudah beberapa kali di gunung yang berbeda - beda pula. Coba bandingkan dengan periode aku dan khafid dulu, gunung adalah tabu. makanya aku sempat bertanya dalam hati ; Loh, kenapa dikhawatirkan ? Namun aku menduga ini karena sayangnya kakak kepada adiknya, mengingat Khafid sendiri pernah terseok di Tanjakan Asu, Arjuna dua minggu sebelumnya. Pun anak muda biasanya simpel dan tidak berfikir jauh alias grusa  grusu, dengan rumus pokok. Pokok budal. Apakah ada yang pernah mendaki Wilis, tanyaku. Belum. Bahkan, Sendang dimana pun mereka juga belum tahu. Ya, ini pelajaran cinta.

Kami melakukan cek perbekalan lagi, dan setelah beres serta lengkap, kami menggeber menuju Sendang. Perjalan ini memakan waktu kekira hampir satu setengah jam, karena ada yang tersesat. Kami sampai Penampihan sudah sore, setelah melewati jalan aspal, beton dan terakhir makadam. Lalu kami memutuskan untuk sekalian berangkat setelah magrib. Kami makan sore di warung satu - satunya yang masih buka, dan kami juga menitipkan motor di sini. Kawasan ini merupakan bekas kebun teh. Ada sisa - sisa pohon teh yang sudah tinggi - tinggi tak seperti di kebun teh yang biasanya tingginta satu meter, di sini yang sepuluh meter pun ada. 

Aku pernah baca juga di  sini ada sebuah situs berjuluk Candi Penampihan. Ternyata lokasinya hanya 50 meter dari warung. Sekali jalan, yok belajar sejarah. Rupanya sudah digembok. Namun, tetiba ada ibu - ibu datang membawa kunci gembok dan menyilakan masuk, dan mengingatkan nanti kalau sudah agar digembok kembali. Suasana khas pedesaan di sini adalah kesederhanaan yang ramah dan hangat. 


Berbeda dengan candi - candi lain di selatan Tulungagung yang rata - rata peninggalan periode Majapahit, candi penampihan adalah candi yang paling tua. Ada banyak versi tentang umur candi ini. Namun, dari perbedaan itu bisa ditarik kesimpulan candi ini dibangun bertahap dalam beberapa periode kepemimpinan atau bahkan beberapa kerajaan. 

Tahun tertua pendirian candi yang didapatkan peneliti adalah tahun 898 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Hal ini didasarkan pada Prasati Tinulat yang berada di teras pertama, isinya mengenai raja-raja masa itu, sampai penyebutan Raja Putri. Selanjutnya ada angka tahun 1200-an Masehi periode Raja Kertanegara Masa Kerajaan Singasari yang ditemukan pada tujuh lempeng prasati tembaga yang ditemukan di kompleks candi ini. Isinya mengenai ritual keagamaan di percandian ini.


Bentuk Candi Penampihan adalah teras berundak, dengan jumlah tiga teras, dimana candi utama berada di teras paling atas. Khas percandian gaya Jawa Timuran. Ada penelitian lain yang menyebutkan bahwa bangunan ini ditumpangkan pada bangunan yang sebelumnya sudah ada sebelumnya, seperti menumpang bangunan lawas. Bangunan yang dimaksud adalah teras berundak purbakala.


Pada teras teratas ada tiga struktur bangunan yang sudah runtuh. Struktur yang di tengah merupakan candi induk, sedang kanan - kirinya merupakan candi perwara. Bentuk dasar candi induk seperti kura - kura, yang melambangkan tunggangan Dewa Wisnu. Sehingga dugaan candi ini sebagai tempat pemujaan semakin kuat.


Teras kedua berupa tanah lapang yang lumayan luas, namun di sini tidak ada bangunan apapun ataupu  sebaran artefak lepas. Teras kedua dengan teras pertama dihubungkan dengan undakan anak tangga yang lumayan banyak karena perbedaan tinggi yang lumayan.


Sedangkan teras pertama atau teras paling bawah merupakan teras yang paling luas dengan bangunan utama berupa Prasasti Tinulat yang dipangku oleh pondasi tinggi, dua sendang di belakang prasati, dan sebaran artefak berupa lumpang serta pecahan arca dan batu candi. 



Ada banyak mitos masyarakat tentang penamaan candi ini. Penampihan diartikan sebagai Penolakan yang berasal dari kata "tampik" dan ada pula yang mengartikan penerimaan dari kata "tampi". Keduanya memiliki cerita sendiri - sendiri, untuk cerita penolakan berasal dari Raja Ponorogo yang hendak melamar Putri Kediri, namun ditolak. Karena merasa malu, beliau memutuskan tidak pulang dan mendirikan tempat suci di sini. Cerita penerimaan berasal dari menerimanya masyarakat setempat waktu itu jika di sini didirikan bangunan suci untuk memuja Dewa Gunung.


Banyak versi yang beredar selain membuat bingung, juga membuat semakin kayanya sebuah peninggalan. Sayang peninggalan yang berharga ini kehilangan hiasan kala, patung siwa dan arca dwarapala pada tahun 2000-an. Terkait relief dan ragam hias di candi ini sudah sangat sulit dideteksi, hanya ada beberapa hiasan patah di beberapa batu candi. 


Beberapa patahan relief menunjukan fragmen manusia walau tidak lengkap. Gaya pakaian fragmen ini mirip dengan penggambaran tokoh - tokoh pada relief yang menceritakan Kisah Panji.


Relief yang terpahat tipis, terkikis dan tidak lengkap ini sungguh sangat sulit mengungkap itu gambar apa. Hewan apa juga tidak jelas. 


Ada juga fragmen bangunan, namun belum diketahui pula itu bangunan apa dengan fungsinyan sebagai latar cerita apa. Kondisi kawasan komplek Candi Penampihan relatih terawat dan bersih. 


Ada cerita menarik dengan dua sendang di belakang Prasati Tinulat yang berhuruf Pallawa itu. Kondisi air di sendang ini mewakili kondisi air di utara dan selatan Jawa. Jika Sendang di selatan penuh hingga meluap, bisa jadi di sisi selatan Jawa ada banjir besar. Jika sendang kering, maka ada musibah kekeringan. 

Setelah puas keliling candi, maka kembalilah kami ke warung. Senja mulai jatuh, dan kami bersiap Shalat Magrib. Senja yang jatuh bersamaan pula dengan jatuhnya hujan di Penampihan. Pemilik warung sudah pulang dan warung sudah tutup. Kami menunggu sampai hujan reda. 

Malam mulai menyapa, mulailah kami berjalan melalui jalan makadam batu - batu membelah perkebunan warga. Penampihan yang semula merupakan penghasil teh, kini berubah menjadi penghasil sayur mayur. Satwa pertama yang aku temukan di sini adalah Kodok Bangkong, alias kodok yang sangat besar, sebesar piring, membuatku merinding. 

Kebun warga berganti hutan kaliandra yang sangat rapat dengan tanjakan yang sangat aduhai. Hujan turun lagi. Namun kami tidak kehujanan karena rapatnya kanopi di jalur pendakian ini. Jalan setapak tetap licin karena dialiri air. Kita harus waspada walau bersepatu pacet jauh lebih jitu dalam menyelinap. Tanjakan yang betul-betul terjal dilengkapi dengan kelicinan tiada tara, membuat keinginan istirahat semakin sering muncul. Tetapi berhati - hatilah saat duduk, bisa jadi di tempatmu duduk pacet sudah menunggu pantatmu dengan sabar.

Perjalanan yang basah, serta angin yang semakin kencang dari arah selatan membuat aku memutuskan untuk mendirikan tenda sedikit di atas Watu Godek. Setidaknya kita sudah jalan hampir lima jam. Puncak sudah dekat. Namun angin yang rasanya mungkin sedang badai ini seperti memberitahu lebih baik berhenti dan berkemah. Kanopi yang rapat betul - betul menghalangi kami untuk tau seberapa deras hujan malam  ini. Dan rupanya, malam ini, kami adalah satu - satu nya rombongan di gunung nan sepi ini. 

Tempat mendirikan tenda ini sebenarnya tidak cukup untuk dua tenda, namun kami tak menemukan tempat yang lebih lapang. Setelah tenda selesai didirikan, berganti pakaian dan menikmati kopi kehangatan. Kami memutuskan untuk tidur. Tenda memang tidak bocor atau merembes, namun dinginnya tanah terasa menembus terpal, matras, dan sleepingbag. Udara tak dingin, namun entah mengapa aku merasa tanah di sini sangat dingin. Angin terus meraung sepanjang malam hingga pagi. Aku hampir tak bisa tidur, takut kalau pohon di sebelah tumbang.


Pagi menyapa tanpa matahari, justru bersama kabut dan hujan yang masih tersisa. Tampak samar pohon - pohon besar, diselingi perdu dan semak, serta ditumbangi anggrek dan segala macam lumut. Hutan ini benar - benar basah. Saat hujan agak reda kami memutuskan ke puncak.


Treck diawali dengan jalan yang landai, lalu berubah tanjakan. jalur ini berada di punggungan bukit. Hutan rapat masih menjadi teman sampai separuh perjalanan. Nikmatilah anugerah Tuhan ini, kawan. Kami menemukan tanaman - tanaman yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Wilis terkenal dengan vegetasi anggrek pohon dan anggrek tanah. Namun kalau anggrek tidak berbunga tak tahu itu anggrek atau bukan. Beragam jenis jamur dan  bunga - bunga lain juga banyak ragamnya.




Vegetasi hutan rapat berubah menjadi homogen cemara gunung, dan jalur semakin naik. Selanjutnya kami serasa sudah sampai puncak, namun tak ada penanda kalau ini puncak. Sedangkan jalan sudah mentok tertutup ilalang tinggi. Kami mencoba mencari jalan, dan tampak jalan setapak ke arah kanan. 




Jalur ini nyaris hilang, semak dan ilalang setinggi lebih dari dua meter mampu menyelapkannya. Kami terus berjalan sampai kami menemukan penanda puncak berupa tumpukan batu, dan Bendera Merah Putih yang basah. 


Pada sebuah pohon cemara gunung ada plat bertuliskan P. WILIS 2556 Mdpl, sebuah penegasan kalau ini adalah puncak. Puncak Wilis sebenarnya adalah tanah lapang yang cocok untuk tempat berkemah. Setidaknya tidak berada di dalam hutan dengan pohon besar dan tua. Lokasinya cukup terbuka. Namun kabut yang tebal membuat kami tak bisa memandang jauh.


Kami bersantai agak lama di sini. Kami berharap kabut akan menyibak, nyatanya tidak. Justru semakin tebal. Udara basah yang sangat saya sukai.



Tak ada rombongan lain, membuat kami harus wefie. Inilah wajah kami yang kehujanan semalaman sampai pagi ini. Puncak Wilis menjadi saksi kami berjuang sampai akhir.


Kabut yang tebal memaksa kami untuk segera turun. Jalanan tentu sudah licin. Kami tak mau ambil resiko untuk menikmati yang lebih licin lagi. Cuaca yang seperti ini rupanya setia sampai kami mencapai Penampihan. Kesetiaan yang tak perlu dipertanyakan. Adik - adik ini mengajarkanku akan sebuah keberanian, walau itu sembrono. Aku beritahu agar membaca sebelum bergiat, walau itu hanya pengetahuan secara literasi bukan lapangan. Pun, Khafid menambahkan nasehat panjang terutama untuk adiknya. Kakak yang sangat perhatian. Kami pulang ke arah Kediri, sebelum air jatuh lagi. Terima kasih adik-adik, terima kasih Khafid, sudah mengajak mendaki gunung sendiri.


Wilis
Aku sebenarnya malu
Aku sudah menyapa Semeru
Menginap berkali - kali di Lawu
Tetapi aku belum mendatangimu

Engkau tahu mengapa aku malu ?
Engkau adalah tempat lahirku
Walau itu di kakimu jauh
Dan engkau selalu aku panjang setiap pulang sekolah

Wilis 
Bolehkah aku meminta sesuatu ?
Tolong sambut aku
Jika aku datang lagi nanti
Bagaimana pun aku akan kembali