Gunung Bromo, Pagi, Kopi, Glondongan dan Seruni

shares


Probolinggo - Sabtu, 21 April 2018

Menjelang malam, mendung menggantung di langit. Tak kelihatan memang, namun terasa dingin saat menggeber motor ke arah selatan, ke arah sebuah warung kopi di depan stasiun kota. Malam ini adalah pemenuhan janji. Bukan janji, tetapi sebuah agenda yang tak kunjung dilaksanakan jauh hari lalu. Dan saat ini dianggap sebagai waktu terbaik, terakhir tepatnya karena salah satu dari kami akan pulang ke negri seberang ; Madura.

Pukul 20.00, aku tiba di kedai kopi. Mereka sudah bercengkerama entah tentang apa, paling juga masa lalu. Tetapi di meja belum nampak satu cangkir pun si hitam yang misterius itu, yang kadang pahit dan kadang asam, kadang juga campur baur sedap nikmat, tetapi bikin si yang akan pulang ke negeri seberang akan lepeh - lepeh, ya karena memang bukan pecinta kopi, tetapi pecinta lelaki, maklum perempuan kesepian.

Aku memesan Aceh Gayo dengan metode V-60, soalnya lagi sebah kalo harus berkutat dengan ampas ala tubruk, ya walau akan luruh tapi itu menunggu waktu. Seperti kenangan mantan yang tak mungkin langsung hilang, dilupa-lupakan malah jadi makin ingat. Sedangkan saat ini aku ingin minum panas-panas, apalagi hujan turun tanpa permisi lebih dulu. 

Pesananku datang, masih mengebul. Dan titipanku berupa gorengan glondongan dari negri Sedayu sudah mimpes keras dan loyo, dingin dan berminyak. Aku rasa gadis madura ini menggorengnya kurang lama. Tetapi mengelak katanya kau yang tak segera datang sejak tadi. Ya jadilah glondongan sekel menemani kopi panas. 

Hujan makin deras, tawa makin keras dan asap dari rokok dan vape meja tetangga makin memenuhi ruangan membuat batuk-batuk. Aku rasa mereka ini paling ikhlas dan legowo dalam bersedekah, bersedekah penyebab penyakit. 

Pukul 22.00, kita usai kan perkopian ini. Maman sudah habis dua cangkir, aku satu cangkir, Fatin belum kelar satu cangkir, dan Aan tidak pakai cangkir karena memang tidak ngopi tapi pesan es rasa-rasa kopi.

Bergerak ke selatan. Sebenarnya aku ragu dengan kondisi Hayati yang makin menua. Tadi siang juga belum sempat isi angin dan ganti oli, dan malam ini harus kuat menahan beban seberat aku dan Fatin. Shock belakang langsung turun. Sedang Maman dan Aan mengendarai motor laki, yang suaranya serasa banyak motor meraung digelepan sambil berteriak : sudah salip saja, salip saja hayati tua itu.

Hujan dari atas sudah berhenti, tetapi hujan dari bawah baru dimulai. Mantan memang sudah pergi, tetapi kenangannya mulai mengganggu tanpa pamrih. Sidoarjo sudah lewat, dan kami melintasi Kali Porong, kali dimana lumpur dari semburan yang sudah bertahun itu diarahkan ke laut, yang sekarang sudah membentuk pulau. Gempol masih ada sisa hujan. Akan memasuki Bangil, bersiaplah arena pacuan kuda siap menghadang. Lalu akan melalui tiga rel miring yang berbahaya. Dan melintasi jalan yang seakan tak berujung antara Pasuruan Kota dan Probolinggo Kota. 

Kami tiba di Soekapoera.
SPBU satu-satunya ini sudah penuh dengan antrean jeep yang hendak isi bensin. Hayati masih kuat, tetapi aku sudah kebelet pipis. 

Kami tiba di Adas. 
Aku sempat khawatir kalau hayati tak kuat dan Fatin harus turun, rupanya engkau masih tangguh hayati walau megap-megap membawa beban. Istirahat sejenak di Adas, sambil menimati suasana di atas panggung karena disorot lampu kendaraan dari arah depan. Aku lebih suka lewat jeplang mas, kata Maman. Iya lebih sepi dan hayati tak mungkin ke sana. Ini jalur wisata wajar jika ramai. 

Kami tiba di Seruni.
Terus ke selatan, dan tanjakan sudah tak seterjal tadi namun jalan mulai rusak. Dan udara makin dingin, bak hati tanpa pasangan. Hayati harus berhenti. Istirahatlah bersama rekan-rekan mu yang juga payah. Biarkan kami menanjak dengan kaki sendiri. 

Gadis Madura menjadi pihak paling bahagia.
Ya memang itu tujuan kami ke Bromo. Jalur Seruni masih sepi. Kuda yang biasanya disewakan juga belum banyak. Bintang-bintang masih kelihatan bergemerlapan. Dan kami menunggu sang matahari. Semburat merah mulai tampak dan bergegas mencari lokasi untuk Shalat Subuh. Aku rasa aku paling tidak agamis diantara mereka. 

Dan inilah Bromo pagi itu, cerah....


Awan hanya ada di atas sana. Tidak ada kabut yang melingkupi Sang Mahameru apalagi Bromo, Batok, Widodaren dan Kursi. Bisa dipastikan akan badai pasir di kaldera sana. Selain panas, itu yang menjadi alasan kami tidak memasuki area kaldera. Kami akan lama di Seruni, sampai jam delapan pagi.

Matahari semakin hangat, dan senyum semakin merekah. Aku sudah lama tidak pegang kamera jadi hasilnya kurang ok. Maklum amatiran. Sebenarnya kami berempat bersama seorang Pangeran Negri Wilangan, namun sayang berhalangan. Akhirnya bersama Senopati Negri Tulungagung bernama Maman.



Pohon ini menjadi lokasi paling favorit di Seruni bagiku. Biasanya kalo kerja di sini hanya memandang sejenak lalu ada yang minta untuk difotokan. Tetapi kali ini, aku adalah seorang turis juga. Turis dari Negri Belakang Rumah.




Sudah makin siang kawan. Ayok bergegas pulang. Jangan lupa sampaikan salam kepada Puncak Sari, Lamongan, Argopura, Raung dan Ijen yang turut menyapa dari arah timur di kejauhan. Bromo Tengger selalu menawan.
Sampai jumpa lagi di kesempatan.

..............................
..............................

Bromo adalah salah satu wisata mahal, namun bisa dibuat murah asalkan sudah merencanakan mau kemana dan dengan kendaraan apa. TNBTS resort Bromo-Tengger mempunyai empat pintu masuk : Wonokitri, Cemorolawang, Jeplang dan B29. Tiket masuk TNBTS Resort Bromo-Tengger Rp 22.500/@ untuk weekday dan Rp 27.500/@ untuk weekend. Khusus untuk jalur Cemorolawang-Probolinggo ada retribusi kabupaten senilai Rp 5.000/@ . Semua kendaraan roda empat dilarang memasuki area Kaldera Tengger, begitupula Motor Matic. Kalau hanya memiliki tujuan melihat matahari terbit dan pemandangan kaldera  pakailah jalur menuju Seruni. Kita hanya perlu membayar retribusi kabupaten tanpa perlu masuk ke TNBTS yang berarti bebas biaya masuk TNBTS. Namun jika hendak menjelajah kawasan Kaldera rekan-rekan dapat melalui jalur Jeplang, Wonokitri, dan Cemorolawang. B29 tidak memungkinkan untuk turun menuju kawasan Kaldera. 

Related Posts