Jalur Penampihan dan Gerimis di Gunung Wilis

shares


Wilis, bukanlah gunung. Bentuknya yang panjang dan lebar serta membentang di enam kapubaten menjadikannya sebagai bentukan alam yang dikuasai oleh bupati terbanyak di Jatim. Jika dibanding Semeru, memang kalah tinggi, dan Wilis masuk dalam kategori gunung tidur. Wilis mempunyai banyak puncak, dan setiap puncak memiliki jalur pendakiann sendiri-sendiri. Puncak yang paling tinggi adalah Puncak Liman, Ngliman-Nganjuk setinggi lebih dari 2600 mdpl. Jarak antar puncak bisa dikatakan jauh dan medan penghalangnya adalah ngarai-ngarai dalam dan punggungan bukit-bukit lain yang tak pernah dijamah manusia. 

Hari itu, aku diminta Khafid untuk menemaninya untuk menemani adiknya bersama rombongannya yang hendak mendaki Wilis melalui Jalur Penampihan Sendang - Tulungagung. Mereka sudah SMA, namun keluarga Khafid sangat khawatir karena si Adik tak mau jujur saat pamit.

Sejenak aku membaca blog beberapa pendaki tentang Jalur Pendakian ini. Aku belum pernah, dan aku yang nanti bakal jadi yang paling tua, ya tua Khafid sebenarnya, sudah membaca medan secara literasi. Rata - rata menyebutkan pendakian ini ditempuh dalam waktu enam jam langsung puncak, dengan vegetasi yang rapat, basah dan banyak pacet siap menghisap darah.

Pagi, 20 Desember 2016, pas musim hujan yang sedang basah - basahnya adalah tanggal pendakian pilihan mereka. Kita akan bertemu di Ngadiluwih pukul satu siang. Maka, aku dan Khafid berangkat pagi dari Soerabaja, karena kami harus mampir rumah Khafid di Janti untuk mengambil beberapa perlengkapan dan belanja perbekalan. Tak perlu mampir rumahku, karena nanti alamat aku gak jadi berangkat. 

Jalanan Surabaya ke arah Kediri cukup lengang, dan pukul sepuluh pagi, kami sudah mampir sarapan di Pecel Punten : Mbenjeng Mriki Maleh Nggeh di Ketami - Pesantren, dekat Janti. Khafid yang takut digigit pacet memilih membawa Mbako lumayan banyak. Setelah segalanya siap, kami berangkat menuju Ngadiluwih.

Baca Juga 6 Kuliner Kediri Yang Wajib Dicicipi Saat Mudik, Ada Yang Harganya Rp 6rb lho

Seingatku, kami bertemu romobongan si Adik yang berjumlah lima orang lelaki SMA itu di Keras, kecamatan di selatan Ngadiluwih. Lalu, kami mampir belanja di Ngantru. Ada sedikit perbekalan belum terbeli. Gaya anak SMA memang membuat pengen SMA lagi. Mereka yang masih kelas dua sudah mendaki gunung. Salah seorang rekannya sudah beberapa kali di gunung yang berbeda - beda pula. Coba bandingkan dengan periode aku dan khafid dulu, gunung adalah tabu. makanya aku sempat bertanya dalam hati ; Loh, kenapa dikhawatirkan ? Namun aku menduga ini karena sayangnya kakak kepada adiknya, mengingat Khafid sendiri pernah terseok di Tanjakan Asu, Arjuna dua minggu sebelumnya. Pun anak muda biasanya simpel dan tidak berfikir jauh alias grusa  grusu, dengan rumus pokok. Pokok budal. Apakah ada yang pernah mendaki Wilis, tanyaku. Belum. Bahkan, Sendang dimana pun mereka juga belum tahu. Ya, ini pelajaran cinta.

Kami melakukan cek perbekalan lagi, dan setelah beres serta lengkap, kami menggeber menuju Sendang. Perjalan ini memakan waktu kekira hampir satu setengah jam, karena ada yang tersesat. Kami sampai Penampihan sudah sore, setelah melewati jalan aspal, beton dan terakhir makadam. Lalu kami memutuskan untuk sekalian berangkat setelah magrib. Kami makan sore di warung satu - satunya yang masih buka, dan kami juga menitipkan motor di sini. Kawasan ini merupakan bekas kebun teh. Ada sisa - sisa pohon teh yang sudah tinggi - tinggi tak seperti di kebun teh yang biasanya tingginta satu meter, di sini yang sepuluh meter pun ada. 

Aku pernah baca juga di  sini ada sebuah situs berjuluk Candi Penampihan. Ternyata lokasinya hanya 50 meter dari warung. Sekali jalan, yok belajar sejarah. Rupanya sudah digembok. Namun, tetiba ada ibu - ibu datang membawa kunci gembok dan menyilakan masuk, dan mengingatkan nanti kalau sudah agar digembok kembali. Suasana khas pedesaan di sini adalah kesederhanaan yang ramah dan hangat. 


Berbeda dengan candi - candi lain di selatan Tulungagung yang rata - rata peninggalan periode Majapahit, candi penampihan adalah candi yang paling tua. Ada banyak versi tentang umur candi ini. Namun, dari perbedaan itu bisa ditarik kesimpulan candi ini dibangun bertahap dalam beberapa periode kepemimpinan atau bahkan beberapa kerajaan. 

Tahun tertua pendirian candi yang didapatkan peneliti adalah tahun 898 Masehi, pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Hal ini didasarkan pada Prasati Tinulat yang berada di teras pertama, isinya mengenai raja-raja masa itu, sampai penyebutan Raja Putri. Selanjutnya ada angka tahun 1200-an Masehi periode Raja Kertanegara Masa Kerajaan Singasari yang ditemukan pada tujuh lempeng prasati tembaga yang ditemukan di kompleks candi ini. Isinya mengenai ritual keagamaan di percandian ini.


Bentuk Candi Penampihan adalah teras berundak, dengan jumlah tiga teras, dimana candi utama berada di teras paling atas. Khas percandian gaya Jawa Timuran. Ada penelitian lain yang menyebutkan bahwa bangunan ini ditumpangkan pada bangunan yang sebelumnya sudah ada sebelumnya, seperti menumpang bangunan lawas. Bangunan yang dimaksud adalah teras berundak purbakala.


Pada teras teratas ada tiga struktur bangunan yang sudah runtuh. Struktur yang di tengah merupakan candi induk, sedang kanan - kirinya merupakan candi perwara. Bentuk dasar candi induk seperti kura - kura, yang melambangkan tunggangan Dewa Wisnu. Sehingga dugaan candi ini sebagai tempat pemujaan semakin kuat.


Teras kedua berupa tanah lapang yang lumayan luas, namun di sini tidak ada bangunan apapun ataupu  sebaran artefak lepas. Teras kedua dengan teras pertama dihubungkan dengan undakan anak tangga yang lumayan banyak karena perbedaan tinggi yang lumayan.


Sedangkan teras pertama atau teras paling bawah merupakan teras yang paling luas dengan bangunan utama berupa Prasasti Tinulat yang dipangku oleh pondasi tinggi, dua sendang di belakang prasati, dan sebaran artefak berupa lumpang serta pecahan arca dan batu candi. 



Ada banyak mitos masyarakat tentang penamaan candi ini. Penampihan diartikan sebagai Penolakan yang berasal dari kata "tampik" dan ada pula yang mengartikan penerimaan dari kata "tampi". Keduanya memiliki cerita sendiri - sendiri, untuk cerita penolakan berasal dari Raja Ponorogo yang hendak melamar Putri Kediri, namun ditolak. Karena merasa malu, beliau memutuskan tidak pulang dan mendirikan tempat suci di sini. Cerita penerimaan berasal dari menerimanya masyarakat setempat waktu itu jika di sini didirikan bangunan suci untuk memuja Dewa Gunung.


Banyak versi yang beredar selain membuat bingung, juga membuat semakin kayanya sebuah peninggalan. Sayang peninggalan yang berharga ini kehilangan hiasan kala, patung siwa dan arca dwarapala pada tahun 2000-an. Terkait relief dan ragam hias di candi ini sudah sangat sulit dideteksi, hanya ada beberapa hiasan patah di beberapa batu candi. 


Beberapa patahan relief menunjukan fragmen manusia walau tidak lengkap. Gaya pakaian fragmen ini mirip dengan penggambaran tokoh - tokoh pada relief yang menceritakan Kisah Panji.


Relief yang terpahat tipis, terkikis dan tidak lengkap ini sungguh sangat sulit mengungkap itu gambar apa. Hewan apa juga tidak jelas. 


Ada juga fragmen bangunan, namun belum diketahui pula itu bangunan apa dengan fungsinyan sebagai latar cerita apa. Kondisi kawasan komplek Candi Penampihan relatih terawat dan bersih. 


Ada cerita menarik dengan dua sendang di belakang Prasati Tinulat yang berhuruf Pallawa itu. Kondisi air di sendang ini mewakili kondisi air di utara dan selatan Jawa. Jika Sendang di selatan penuh hingga meluap, bisa jadi di sisi selatan Jawa ada banjir besar. Jika sendang kering, maka ada musibah kekeringan. 

Setelah puas keliling candi, maka kembalilah kami ke warung. Senja mulai jatuh, dan kami bersiap Shalat Magrib. Senja yang jatuh bersamaan pula dengan jatuhnya hujan di Penampihan. Pemilik warung sudah pulang dan warung sudah tutup. Kami menunggu sampai hujan reda. 

Malam mulai menyapa, mulailah kami berjalan melalui jalan makadam batu - batu membelah perkebunan warga. Penampihan yang semula merupakan penghasil teh, kini berubah menjadi penghasil sayur mayur. Satwa pertama yang aku temukan di sini adalah Kodok Bangkong, alias kodok yang sangat besar, sebesar piring, membuatku merinding. 

Kebun warga berganti hutan kaliandra yang sangat rapat dengan tanjakan yang sangat aduhai. Hujan turun lagi. Namun kami tidak kehujanan karena rapatnya kanopi di jalur pendakian ini. Jalan setapak tetap licin karena dialiri air. Kita harus waspada walau bersepatu pacet jauh lebih jitu dalam menyelinap. Tanjakan yang betul-betul terjal dilengkapi dengan kelicinan tiada tara, membuat keinginan istirahat semakin sering muncul. Tetapi berhati - hatilah saat duduk, bisa jadi di tempatmu duduk pacet sudah menunggu pantatmu dengan sabar.

Perjalanan yang basah, serta angin yang semakin kencang dari arah selatan membuat aku memutuskan untuk mendirikan tenda sedikit di atas Watu Godek. Setidaknya kita sudah jalan hampir lima jam. Puncak sudah dekat. Namun angin yang rasanya mungkin sedang badai ini seperti memberitahu lebih baik berhenti dan berkemah. Kanopi yang rapat betul - betul menghalangi kami untuk tau seberapa deras hujan malam  ini. Dan rupanya, malam ini, kami adalah satu - satu nya rombongan di gunung nan sepi ini. 

Tempat mendirikan tenda ini sebenarnya tidak cukup untuk dua tenda, namun kami tak menemukan tempat yang lebih lapang. Setelah tenda selesai didirikan, berganti pakaian dan menikmati kopi kehangatan. Kami memutuskan untuk tidur. Tenda memang tidak bocor atau merembes, namun dinginnya tanah terasa menembus terpal, matras, dan sleepingbag. Udara tak dingin, namun entah mengapa aku merasa tanah di sini sangat dingin. Angin terus meraung sepanjang malam hingga pagi. Aku hampir tak bisa tidur, takut kalau pohon di sebelah tumbang.


Pagi menyapa tanpa matahari, justru bersama kabut dan hujan yang masih tersisa. Tampak samar pohon - pohon besar, diselingi perdu dan semak, serta ditumbangi anggrek dan segala macam lumut. Hutan ini benar - benar basah. Saat hujan agak reda kami memutuskan ke puncak.


Treck diawali dengan jalan yang landai, lalu berubah tanjakan. jalur ini berada di punggungan bukit. Hutan rapat masih menjadi teman sampai separuh perjalanan. Nikmatilah anugerah Tuhan ini, kawan. Kami menemukan tanaman - tanaman yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Wilis terkenal dengan vegetasi anggrek pohon dan anggrek tanah. Namun kalau anggrek tidak berbunga tak tahu itu anggrek atau bukan. Beragam jenis jamur dan  bunga - bunga lain juga banyak ragamnya.




Vegetasi hutan rapat berubah menjadi homogen cemara gunung, dan jalur semakin naik. Selanjutnya kami serasa sudah sampai puncak, namun tak ada penanda kalau ini puncak. Sedangkan jalan sudah mentok tertutup ilalang tinggi. Kami mencoba mencari jalan, dan tampak jalan setapak ke arah kanan. 




Jalur ini nyaris hilang, semak dan ilalang setinggi lebih dari dua meter mampu menyelapkannya. Kami terus berjalan sampai kami menemukan penanda puncak berupa tumpukan batu, dan Bendera Merah Putih yang basah. 


Pada sebuah pohon cemara gunung ada plat bertuliskan P. WILIS 2556 Mdpl, sebuah penegasan kalau ini adalah puncak. Puncak Wilis sebenarnya adalah tanah lapang yang cocok untuk tempat berkemah. Setidaknya tidak berada di dalam hutan dengan pohon besar dan tua. Lokasinya cukup terbuka. Namun kabut yang tebal membuat kami tak bisa memandang jauh.


Kami bersantai agak lama di sini. Kami berharap kabut akan menyibak, nyatanya tidak. Justru semakin tebal. Udara basah yang sangat saya sukai.



Tak ada rombongan lain, membuat kami harus wefie. Inilah wajah kami yang kehujanan semalaman sampai pagi ini. Puncak Wilis menjadi saksi kami berjuang sampai akhir.


Kabut yang tebal memaksa kami untuk segera turun. Jalanan tentu sudah licin. Kami tak mau ambil resiko untuk menikmati yang lebih licin lagi. Cuaca yang seperti ini rupanya setia sampai kami mencapai Penampihan. Kesetiaan yang tak perlu dipertanyakan. Adik - adik ini mengajarkanku akan sebuah keberanian, walau itu sembrono. Aku beritahu agar membaca sebelum bergiat, walau itu hanya pengetahuan secara literasi bukan lapangan. Pun, Khafid menambahkan nasehat panjang terutama untuk adiknya. Kakak yang sangat perhatian. Kami pulang ke arah Kediri, sebelum air jatuh lagi. Terima kasih adik-adik, terima kasih Khafid, sudah mengajak mendaki gunung sendiri.


Wilis
Aku sebenarnya malu
Aku sudah menyapa Semeru
Menginap berkali - kali di Lawu
Tetapi aku belum mendatangimu

Engkau tahu mengapa aku malu ?
Engkau adalah tempat lahirku
Walau itu di kakimu jauh
Dan engkau selalu aku panjang setiap pulang sekolah

Wilis 
Bolehkah aku meminta sesuatu ?
Tolong sambut aku
Jika aku datang lagi nanti
Bagaimana pun aku akan kembali

Related Posts