Gunung Lawu, Aku Padamu

shares


Ardian Aziz Rifa'i, guru agama di Lereng Lawu itu selalu mengusik dengan pertanyaan : Kapan kita mendaki Lawu lagi ? Lawu sedang cerah. Jujur, aku sudah rindu. Aku juga gak enak hati sudah membatalkan pendakian ke Lawu beberapa kali. Akhirnya, aku berangkat juga ke Maospati tanpa carier, biar itu yang bawa Aziz. Toh, berulang kali aku juga yang bawa.

Entah kenapa aku selalu mendaki saat puncak musim hujan. Bulan-bulan basah, seperti kali ini pertengahan Nopember 2017. Dan rombongan kali ini adalah teman sebangku waktu kelas XI. Bakal jadi pendakian yang intim, hanya berdua.


Aku sampai di Maospati pukul 10 pagi. Pelataran terminal tampak basah, sisa hujan kemaren. Aku sangat suka dengan terminal ini. gapuranya lawas nan megah itu tampak gagah menjaga kedamaian. Dan Aziz sudah nangkring di depan Musola. Kali ini dia yang sangat antusias, padahal Agustus kemaren dia sudah dari Lawu juga. Senyum lebar dengan sambutan hangat yang menyengat : kita lewat Cemoro Kandang !, Pakai Jalur lain bro !.

Motor menderu ke arah Plaosan. Aku minta kita makan siang dulu, sekalian beli bekal buat makan sore. Dan beli sedikit makanan mentah. Mampirlah ke warung depan Pasar Plaosan, menu Pecel Magetan, sebut saja begitu. Dan teman saya yang paling ganteng se-Nagari Magetan ini ribut dengan atribut yang akan dikenakannya untuk foto di atas nanti. Dia membeli decker, scraf, sarung tangan dan entah apalagi.

Oke. Segalanya siap, dan kita berangkat. Hujan langsung mengguyur tanpa ampun dan kita berhenti sejenak di bengkel yang tutup. Sebelah ada pasangan laki-cewek bermesraan karena kehujanan. Aje gile, aku sama Aziz. 

Mendung nan putih menandakan hujan akan awet. Akhirnya motor tetap digeber menuju atas. Melewati pertigaan Sarangan, Mojosemi, Cemoro Sewu dan berhenti tepat di Cemoro Kandang yang sedang basah-basahnya. Kabut tipis masih ada, sisa hujan tadi. 

Ketika sampai di Pos Perijianan Cemoro kandnag, aku bergegas mengurus SIMAKSI, sedang Aziz mengurus parkir motor. Pos Perijinan yang jadi satu dengan loket Cemoro Kandang itu hanya dijaga seorang Bapak Tua yang dengan sopan melayaniku. Aku tanyakan perihal cuaca beberapa hari ini dan rombongan yang naik hari ini dan jam berapa naiknya. Cuaca tiap hari hujan tak kenal pagi, siang, sore, malam. Jadi ingat ada yang ngomomg cuaca cerah. Ada satu rombongan naik tadi jam 10.00 , berarti sudah empat jam yang lalu. 

Aziz selalu gembira saat seperti ini, lihat saja nanti. Hujan basah saban hari diberitakan cerah. Perbedaan mendasar Jalur Cemoro Kandang dengan Cemoro Sewu adalah jalannya. Cemoro Kandang masih tanah di tengah semak, sedang Cemoro Sewu adalah jalan makadam. Jalur Cemoro Kandang juga lebih sepi, konon hanya untuk turun, dan jalurnya lebih jauh dibanding Cemoro Sewu, yang jelas jarang dilewati bisa menyebabkan jalan tak nampak dan menimbulkan resiko tersesat lebih besar.

Perjalanan diawali dengan anak tangga yang tak terlalu banyak llau mulai menanjak. Selanjutnya jalan tanah itu berubah menjadi jalur air, alias jalan yang dilewati air, sehingga jalanan ini licin dan ada kubangan-kubangan air. Air juga menggerus permukaan jalan menjadi alur-alur seperti bekas jalan roda motor di Argapura. Kondisi yang basah lembab ini sangat menyenangkan, segar dan terasa damai.


Pos I berada di tengah hutan kaliandra yang rapat. Dan baru di Pos ini kami bertemu rombongan lain yang turun, yang ternyata rombongan sangat besar berbelasan orang. Aku dan Aziz minta difotokan. Sekedar dokumentasi kalo memang berdua.



Hutan Kaliandra dengan jalur pendakian bak sungai kecil itu terus berlanjut sampai Pos II. Pos II dekat dengan Kawah Candradimuka yang tampak terus mengepul. Dan di sini hujan turun. Kami sempatkan makan siang bekal yang dibeli tadi di Pasar Plaosan kita buka. Ternyata Aziz juga bawa bekal dari rumah. Lengkap sudah menu siang ini. Hujan berlangsung hampir satu jam. Rasanya memang benar-benar basah. 


Patut diwaspadai setelah hujan turun, pasti kabut turut serta. Tepat setelah hujan reda. Niat hendak menengok Kawah Candradimuka pun sirna. Lebih baik, saat hujan usai ini, melanjutkan perjalan ke Pos III. Apalagi kabut akan menghalangi pemandangan panorama kawah yang entah bagaimana bentuknya.


Jalur menuju Pos III sudah didominasi cemara gunung, maklum sudah 2000 mdpl lebih. Jalur memutari bukit ini terasa panjang juga. Jalur ini berada tepat di pinggir ngarai dalam, ada beberapa ruas diberi pegangan dari kawat besi besar yang menurutku hanya pantas dipandang bukan untuk dipegang. Maksudnya sebagai petunjuk kalau jalan yang di lalui benar. 

Pos III bernama Pengik. Entah apa artinya. Tandanya adalah bangunan beton yang tegak berwarna orange. Walau jalan selama dua jam penuh dari Pos II, kami hanya istirahat sejenak. Jujur, kami takut kemalaman. Kami harus sampai Warung Mbok Yem saat magrib. Kami tak membawa tenda. Kesalahan klasik karena terbujuk berita cuaca cerah.

Tak jauh dari Pengik, ada sebuah sumber air kecil di sisi kanan jalan yang airnya meluber membasahi jalan hingga becek. Sumber air ini bernama Sendang Panguripan. Bunga dan sesajen terkumpul banyak di sendang ini. Kami isi penuh botol-botol kami. Mumpung ada sumber air. 

Jalan menuju Pos IV terasa sangat panjang, sampai langit mulai gelap kami belum sampai. Dan saat sudah benar-benar gelap, bersama datangnya kabut yang makin pekat yang tak mampu ditembus oleh senter badai, dan senter golek bekicot milik Aziz, jalur pendakian hilang. Namun ada bukaan ke arah atas, jalan lebar yang sangat menanjak. Tak lama ada banyak sorot lampu dari atas. Kami yakin itu Pos IV. Kami bersemangat menuju ke sana. Saat sudah sampai kami betul gembira, kami selamat. Mereka rombongan kecil sembilan orang.

" Betul ini Pos IV ? ", tanyaku.
" Maaf Mas, kami tersesat ! ", Jawab salah satunya dengan lemas. Sontak Aziz pun lemas tak berdaya. 
" Sudahlah, kita break dulu Mas. Matikan senter. Kita tak boleh panik. Biar kabut membuka sejenak nanti kita senter lagi. Toh kita bersama, saya hanya berdua ", ucap saya selanjutnya. Tak ada jawaban dan senter pun dipadamkan semua. 

Tentu rombongan ini yang berangkat empat jam sebelum aku dan Aziz berangkat. Mereka tampak payah, lelah, dan letih, sepertinya sudah tersesat lama. Aku bangkit dan maen senter ke arah kiri. Tampaklah bangunan beton beratap seng dibalik kabut tipis. Jaraknya kurang dari 40 meter dari posisi kami.

" Mas, kayaknya itu Pos IV. Mari berpindah, kita bisa masuk ke dalamnya ! ", ajakku. Dan yang paling semangat adalah Aziz. Karena kabut, jarak sedekat itu pun tak tampak. Senter yang rata-rata berwarna putih memang tak bisa menembus kabut yang juga berwarna putih. Kami bersebelas berpindah.

Mereka berencana menginap saja di Pos IV yang bernama Cokro Suryo ini. Namun bukan Aziz namanya jika tidak bikin ulah. 

" Jangan mas, di sini dingin. Kita menginap di Mbok Yem saja. Sudah dekat, jalan juga sudah landai dari sini. Enak gak perlu bangun tenda, tak perlu masak. Bisa beli ", Aziz mengompori.

" Betul kah itu Mas ? ", tanya salah satu.
" Betul. Beneran ini, sapa tahu kita masih dapat gorengan Mbok Yem malam ini ", makin panas kompornya.
" Okemas. Kita ikut. Tapi istirahat dulu barang 15 menit ya?"
" Oke, nanti Mas Andry yang di depan memandu kita! Percayalah !". 

Aku saja tak percaya, rekan terbaik saya bisa sejenius itu. Aku hanya ngelus dada. Aku gak pernah lewat sini Jul. Mana tau ada tanjakan enggak, mana tau juga dekat enggak. Apalagi di kondisi yang berkabut perjalanan akan terasa jauh. Tak perlu juga berdebat dengan kawan sendiri. Dibatin saja, semoga benar. Aamiin. 

Lima belas menit berlalu, dan aku belum menemukan jalan, selain jalan menurun di sebelah kanan bangunan pos. Aku ragu, tetapi sepuluh orang berharap padaku. Percayalah saat engkau naik gunung dan mendapati turunan, maka akan ada tanjakan yang lebih tinggi dari dalamnya turunan itu. Dan itu benar, selanjutnya jalan naik. Hingga yang belakang meronta berkali-kali minta break. Aziz ada di ekor barisan. Jadi aku hanya bisa sumpah serapah dalam hati : emploken Ziz tanjakan iki.

Enam puluh menit berlalu, dan belum ada tanda-tanda masuk areal Hargo Dalem yang penuh bangunan itu. Tetapi selanjutnya, aku menemukan persimpangan dengan jalan agak lebar. Rupanya itu Pos V, berarti masih separoh. Aku berharap jika cukup mendirikan tenda, biarlah mereka mendirkan tenda di sini. Tetapi rupanya tak cukup lebar untuk mendirikan tenda.

Mata ke sembilan orang tak dikenal itu semakin merah dalam kilatan senter, tanda lelah dan mungkin marah. Pundakku makin berat. Ayok semangat, setidaknya jalur ini benar. Jalan terus, hingga kabut tersibak. Nampaklah tandon air warna kuning, kita sampai di Hargo Dalem. Aku lega. Dan makin lega, saat berhasil membuka pintu warung Mbok Yem, dan menyilahkan sembilan orang itu masuk duluan dan mengambil tempat. Lalu Aziz tak minta pesankan teh buat mereka. Aku mau ganti dalaman. 

Mereka berterima kasih, dan Aziz merasa di atas sanjungan. Padahal aku sangat was-was. Takut salah satu mereka atau beberapa pingsan. Aku pastikan mereka dapat tempat. Di bawah temaram lampu warung, aku masih belum jelas memandangi wajah mereka. 

Warung Mbok Yem lumayan ramai malam itu. Aku sudah tak berminat bergabung mengobrol dengan rombongan lain itu. Rombongan yang akun tolong tadi langsung tidur setelah minum teh. Aziz masih ribut dengan segala barang bawaannya yang basah karena lupa tak packing basah. 

Ya bukan hendak nguping apa yang dibicarakan rombongan sebelah. Rupanya pendaki yang pengalaman. Ceritanya menggebu menceritakan pendakiannya ke gunung-gunung hebat. Rupanya mereka juga gabungan beberapa rombongan, yang nampakmnya akrab, tetapi adu cerita. Banyak-banyakan gunung, tinggi-tiggian gunung dan hebat-hebat pengalaman saat mendaki, yang tersesat, berguling, nyaris dipatok ular dan segala cerita ajaib lain. Keakraban yang aneh. Saat mereka bubar, dan ambil posisi tidur. Aku belum tidur. Aku mau keluar sejenak. Aku buka pintu warung, dan ku nikmati udara basah ini. Kabut sudah tersibak. Bintang-bintang berserak dilangit. Angin pun sangat tipis. Namun memang udara basah ini dingin. Aku pandang ke bawah sana, ada beberapa kerlip lampu. Tentu itu desa-desa di kaki Lawu. Duduk sendirian di depan Warung Mbok Yem kali ini sangat damai, walau tak lama. Aku takut masuk angin dan menyusahkan Aziz besok. Aku masuk kembali ke warung yang sudah sunyi ini. Aku pejamkan mata, sepejam-pejamnya. Selamat malam, Lawu.

Aku terbangun pukul lima lewat. Aku ajak Aziz mendaki ke Hargo Dumilah, memburu semburat merah Sang Surya nan Perkasa. Kali ini aku harus dapat sunrice di Hargo Dumilah. Membawa bekal air, gabin dan permen kami mendaki bukit terakhir. Menanjak, dan kami sudah tahu medan. 

Surya keburu keluar saat kami belum sampai puncak, yah kurang pagi. Tetapi dengan lautan awan di bawah kami, ada suasana dramatis yang hanya kami nikmati berdua.


Saat sudah mendekati puncak, puncak dramatis pun dimulai. Sayang tidak bawa kamera, sebuah kesalahan yang tepat. Ada waktu yang lebih intim dengan fenomena itu sendiri.



Surya keluar dari balik Gunung Wilis, lalu beradu dengan awan yang tebal bergulung-gulung di bawah sana. Sinar kuningnya yang hangat menerpa muka dan seluruh raga. Ini sangat damai.


Hargo Dumilah dengan tinggi 3265 mdpl adalah puncak tertinggi di Lawu. Penanda puncak ini sebuah tiang balok yang kokoh dengan puncak berupa Lingga-Yoni. Sayang Yoni-nya sudah patah, bisa jadi karena tersambar petir. Lingga-Yoni tanda bersatunya manusia dengan Tuhannya, manunggaling kawula Gusti. Penanda Gunung Lawu adalah pusat mistik Jawa.


Areal Puncak Hargo Dumilah tidaklah luas, namun memiliki sayap ke arah barat. Sisi Selatan merupakan sebuah lembah berjuluk Telaga Kuning. Sebelah utara Hargo Dalem, tempat menginap semalam. Lebih ke bawah lagi berupa padang savana, itu bernama Bulak Peperangan.


Pemandangan dari sayap barat Harga Dumilah tak kalah cantik. Lebih sepi, dan bisa memandang Puncak Harga Dumilah, matahari terbit yang bermandi awan dan tentu lembah Telaga Kuning.


Sejatinya Telaga Kuning bukanlah telaga, itu adalah lembah yang diapit bukit puncak-puncak Lawu yang membentuk mangkok, yang saat penghujan terisi air. Itu pun kecil sekali volumenya. Telaga Kuning yang luas biasanya dipakai lapangan untuk peringatan Kemerdekaan RI di Puncak Lawu.




Walau berangkat agak ogahan, nyatanya ini adalah pendakian Lawu yang paling damai dengan segala kejadiannya. Alam tak pernah salah, apalagi Allah. Aku berucap syukur masih diberi kesempatan mendaki Lawu sekali lagi, dengan pengalaman yang berbeda.


Sebelum mentari makin menyengat, aku ajak Aziz turun ke Harga Dalem. Sudah waktunya untuk turun, aku langsung ke Surabaya hari ini juga. Kami tidak sarapan di Warung Mbok Yem, kami akan sarapan di Pos IV, karena bekal kami belum dimasak sama sekali. Jangan lupa pamit kepada penguasa Hargo Dalem bernama Mbok Yem, yang sangat berjasa.


Mbok Yem punya selera yang nyentrik juga soal menata halaman. Tanaman entah namanya ini menghiasi halaman warung. Selain mawar merah jawa dan tanaman yang sudah biasa. Bunga semak ini meriah dan semarak menghias halaman.


Sebelum turun, aku mengajak Aziz mampir ke Hargo Dalem. Hargo Dalem merupakan sebuah komplek bangunan yang digunakan untuk ritual tertentu. Terdiri dari beberapa banguan, dimana bagunan utama berada di paling atas, yang konon merupakan tempat muksa Sang Raja Brawijaya V. Sedang bangunan di bawahnya yang sepenuhnya terbuat dari seng, merupakan tempat istirahat peziarah.

Halaman depan Hargo Dalem tempat yang tepat untuk mengarahkan pandangan ke arah Bulak Peperangan. Kami beruntung melihat rusa berkeliaran pagi itu. Seakan memberikan ucapan : terima kasih sudah berkunjung. 


Harga Dalem, terima kasih untuk hari ini. Maaf kami harus pergi, tahun depan kami akan mengunjungimu lagi. Insyaallah.



Kabut justru masih menggumpal di bawah. Pandangan dari halaman Hargo Dalem menunjukannya. Bisa jadi justru di bawah hujan deras.

Perjalan dari Harga Dalem ke Pos IV justru membuat kami harus mendaki tanjakan terlebih dahulu. Pemandangan yang tak tampak kemaren, kini menunjukan keelokannya : Indah.



Setelah berjalan beberapa saat, kami sampai di Pos V Persimpangan, yang ternyata memang sempit. Hanya bisa untuk singgah saja. Tak muat untuk mendirikan tenda.



Pos V menuju Pos IV terasa sangat jauh dan tak sampai-sampai. Mungkin karena banyak berfoto dan perut sudah mulai keroncongan. Pos IV ayoklah tunjukan dirimu, jangan seperti kemaren malam.


Kalau kemaren, harus melewati turunan untuk ke Puncak, sekarang untuk ke Pos IV harus mendaki. Dan inilah Pos IV. Bangunan permanen yang tampak gagah dimakan usia, dimakan dingin dan angin.


Pos IV memiliki pelataran yang lumayan luas. Sebenarnya merupakan tempat mendirikan tenda yang ideal. Dan kami akan masak ceria di sini. 


Saat memasak kami ditemani Jalak Gading, ingin sarapan bersama rupanya. Aku lempar roti tawar dan dimakan olehnya. Dan Jalak gading ini menemani kami sampai Cemoro Kandang.

Cuaca saat turun, sama dengan saat naik. Hujan di Pos II membuat perjalanan kami terhenti. Kami tetap tak bisa menengok Kawah Candradimuka. Kami baru sampai Pos Perijinan Cemoro Kandang pukul 14.00 WIB. Perjalanan turun membuat lapar, dan saat inilah aku sampaikan sumpah serapah akan kejadian kemaren malam kepada Aziz. Dia ketawa terbahak-bahak. 

Aku menyempatkan mandi, yang oleh Aziz dianggap sebagai hal gila dicuaca yang dingin begini. Aku lebih suka dingin brother. Selanjutnya, aku minta diantar ke Terminal Maospati. Dan kami harus berpisah. Besok pagi Aziz harus mengajar, sedang aku ada urusan di Kota Perjuangan : Soerabaja. Aku sampai Kost tepat tengah malam. Karena nyatanya akun baru naik bis setelah magrib. Lawu sampai jumpa lagi.


Lawu
Percayalah kami akan menjagamu
Jangan khawatir dirimu
Selama masih ada orang Jawa abadi dirimu

Lawu
Kau semakin cantik
Aku justru terpesona denganmu
Setelah sekian kali menengokmu

Lawu
Tunggu aku
...

Related Posts