Menanjak Menuju Puncak Singgasana Arjuna

shares


Arjuna, Gunung paling ngangenin bagi seorang saya. Tinggi menjulang diantara Malang - Surabaya membuatnya selalu dilihat banyak orang, namun tak semua orang sudi mendakinya.

Pagi, kami sudah beranjak dari Soerabaja, menggeber motor untuk segera sampai di Tretes. Rombongan kali ini beranggotakan empat orang, tiga dokter gigi : Khafid, Falah dan Arsa, serta seorang akuntan cinta kampus bernama seorang saya.

Perijinan
Kawasan Tretes merupakan kawasan wisata yang dikuasai banyak pihak. Pun menuju lajur pendakian ini ada beberapa pos yang melakukan penarikan tiket masuk. Apakah ini ilegal ? Tidak. Ini legal. Kita harus baca, tanya dan jujur.
Pos ke 1 : Pos BKSDA TWA Tretes berada di belakang Hotel Surya, merupakan pos yang dirujuk pertama kali saat mendaki. Dahulu pos ini ini memang berperan sebagai pos perijinan pendakian tetapi sekarang peran tersebut tidak berlaku lagi. Pos ini adalah pos untuk TWA Tretes, yakni kawasan hutan pinus dan camping ground yang ada di belakang pos, termasuk jalan makadam yang akan menyambung di pet bocor. Jika engkau membeli tiket di sini, maka tiket itu hanya untuk ijin melintas di jalan makadam di area TWA sampai dengan Pet Bocor.
Pos ke 2 : Pos WW Kakek Bodo berada 200 meter arah utara Pos BKSDA TWA Tretes. Pos ini merupakan pos perijinan untuk berkegiatan di Camping Ground Kakek Bodo, Wisata di Air Terjun Kakek Bodo, dan Area sekitar sampai Pet Bocor lama. Selain melintas melalui TWA Tretes, pintu WW Kakek Bodo adalah alternatif yang paling murah. Kita hanya perlu lapor ke penjaga pos bahwa kita hendak mendaki Arjuna. Maka kita tidak akan ditarik tiket masuk yang lumayan yakni 15.000 rupiah per kepala.
Pos ke 3 : Pos Perijinan Masuk Tahura Soerjo. Pos ini berjarak 1,2 km dari Pos WW Kakek Bodo, dan merupakan pos perijinan untuk pendakian Arjuna-Welirang via Tretes. SIMAKSI pendakian per Januari 2018 sebesar 10.000 rupiah/@/day. So, mari bijak dalam menyikapi perubahan ini agar tidak membayar dobel karena ketidaktahuan.

Arjuna adalah gunung yang apa adanya, tak pernah bertele-tele alias langsung memberikan tanjakan tanpa ampun sejak menginjakan kaki. Tanjakan yang tak akan habis sampai puncak. Tenang ada beberapa jalur landai dan keindahan tiada tara, pun juga tanjakan sensasional yang akan membuatmu tergoda mengeluarkan kata mutiara.

Pos Pet Bocor
Pos Pet Bocor atau Pos Perijinan Masuk Tahura Soerjo sekarang sudah sangat baik. Pos ini memiliki fasilitas musola, dan camping ground lengkap dengan kamar mandi. Namun untuk sampai ke sini kita perlu jalan kaki dengan pelan tapi pasti melewati tanjakan selamat datang di Arjuna sejauh 1.500 meter dari parkir motor terdekat di timur Pos WW Kakek Bodo dengan waktu tempuh normal 30 menit. Jalur langsung menanjak ini berupa aspal sejauh 300 meter dan selanjutnya berganti jalan beton hingga di Pos Pet Bocor. Vegetasi didominasi pinus yang di sela-sela nya ditanamim kopi serta salak. Jalan pelan saja kawan, ini masih permulaan, jangan lari.

Pos Kopkopan
Peluh pasti menetes dengan deras, lelah itu pasti. Dan punggung basah kuyup. Wajah rekan-rekan berubah menjadi merah merona, bukan karena malu tetapi karena ngap. 
Istirahat sejenak di Pet Bocor, lalu melanjutkan perjalanan dengan jalur makadam. Tanjakan ? tenang dia sangat setia. Vegetasi awal masih kebun kopi, lalu berganti hutan rapat, kaliandra, perdu lalu setelah tiga jam sampailah di Pos Kopkopan yang didominasi semak. Kopkopan berada di area terbuka diantara dua bukit, memiliki sumber air yang besar membentuk air terjun setinggi lima meter, namun saat kemarau sumber ini memiliki debit yang sangat kecil. Pos ini merupakan tempat yang paling tepat untuk menikmati lampu kota di malam hari di jalur ini. Kami istirahat dan makan siang di sini. Masak di dalam warung yang sedang kosong dalam upaya mencari peneduh dan menghindari angin. Mengisi energi sebelum menanjak lagi, tanjakan eksotis akan kita temui sebentar lagi.


Pos Pondokan
Jika engkau belum berjalan selama lima jam dari Kopkopan jangan pernah bertanya kepada siapapun terkait : Apa Pos Pondokan itu sudah dekat ? , apalagi jika belum melewati tanjakan terjal nan panjang bernama tanjakan eksotis. Bagi pendaki Soerabaja ini adalah masterpiece Arjuna via Tretes sehingga kami dengan sangat bangga memberikan award berupa nama kebangsawaan tertinggi : Tanjakan Dancuk. Adapula yang menamainya tanjakan setan, tanjakan asu, tanjakan penyesalan, dan nama - nama indah lainnya. Jalur dari Kopkopan diawali dengan semak lalu berlanjut hutan cemara gunung hingga Pondokan. 


Pos Pondokan merupakan kumpulan pondok penambang belerang di Gunung Welirang yang menempati area lapang nan luas. Di sini ada sumber air yang relatif besar, namun untuk musim kemarau perlu diantisipasi. Pos ini dikelilingi bukit di ketiga sisinya, dan sisi timur merupakan hutan cemara gunung yang menjadi jalur menuju ke Kopkopan. Pos ini merupakan pertigaan pertemuan jalur menuju Welirang dan jalur menuju Arjuna. Pondokan ke Arjuna masih membutuhkan waktu selama enam jam perjalanan, dan untuk menuju Welirang tinggal dua jam saja. Malam ini kami menginap di sini. Berebut tempat mendirikan tenda, sehingga kami mendapat tempat jauh di atas, artinya jauh dari sumber air.

Pagi menyapa dengan manis. Semanis senyum pendaki putri yang minta ditemani ambil air wudhu tadi subuh. Ikhlas namun dingin sangat memeluk. Semalam dia berhasil menembus pertahanan. Kami sarapan dengan masakan Khafid, dan engkau harus siap dengan tingkat kepedasan yang tinggi. Jika aku yang masak maka akan kau dapati sayur yang menurut Khafid belum matang, tapi menurutku itu segar. Ini masalah selera. 

Hari ini kami akan menuju Ogal - Agil alias puncak Arjuna, dimana merupakan tempat batu singgasana Arjuna. Setelah bekal ke puncak siap, kami mulai jalan. Arjuna adalah gunung yang mempunyai pola cuaca yang buruk, alias tidak tertebak. Sehingga secerah apapun di Pondokan tetaplah membawa ponco, dan karena bakal menempuh perjalnan selama 12 jam pp, maka persiapkan senter dengan baik. Juga Kamera terbaik, karena keindahan Arjuna dimulai dari sini.


Keindahan pertama adalah Lembah Kijang. lembah ini merupakan savana luas yang tersekat dengan deretan cemara gunung. Memandangnya tiada jemu, membuat mata sangat rileks. Udara nan dingin dan segar betul menyejukan mata.


Saat cuaca cerah, Puncak Ogal - Agil akan tampak menjulang. Namun saat berkabut, justru membuat tak ingin pulang. Kabut turun sangat tiba - tiba, hingga sempat berfikir untuk membatalkan rencana ke puncak. Namun kami mencoba tenang, tentu kabut ini juga akan segera pergi, secepat dia datang.


Melewati Lembah Kijang bak melewati taman alam nan abadi. Namun selanjutnya tanjakan mulai menghadang. Lagi dan lagi. Melintasi rapatnya hutan cemara gunung. Jalan menjadi berkelok dan kami bertemu savana kecil.


Kami juga sempat melintasi sebuah batu besar. Batu ini merupakan tempat ideal untuk istirahat, namun sangat berbahaya karena rawan sambaran petir. Sudah banyak korban tersambar petir di sini, jadi saat cuaca hujan sebaiknya langsung melintas tanpa berhenti.


Jalanan menuju ke puncak masih panjang. Kita harus melipir beberapa bukit lalu naik kembali menggapai bukit tertinggi.





Jalan menanjak akan berakhir sejenak saat kita melihat patok perbatasan Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan. Nyatanya Puncak Arjuna berada di Malang. Selanjutnya kita akan menikmati jalanan datar sampai masuk ke area Pasar Dieng.


Pasar Dieng merupakan area lapang dengan vegetasi semak rumput, cantigi dan edelweis. Area ini ditandai dengan adanya replika makam yang dibuat sedemikian rupa. Secara lokasi ini merupakan tempat tertinggi di Arjuna yang memungkinkan untuk pendirian tenda. Namun cuaca ekstrim perlu diperhitungkan lebih matang jika akan melakukannya. Selain cuaca dan udara dingin di atas 3200 mdpl, kawasan ini juga terkenal angker. Ada Pasar yang ramai setiap malam. Dan jika sudah begitu jangan keluar tenda.



Area Pasar Dieng memang menawan, tetapi mari kita naik ke atas sedikit. Kita seakan sampai di Puncak Arjuna, tapi percayalah ini adalah Puncak Tipuan, karena puncak sebenarnya ada di seberang lembah sana.




Puncak Tipuan memang memiliki tinggi yang nyaris sama dengan Puncak Ogal Agil sebagai puncak tertinggi, mungkin hanya selisih sekian puluh meter. Namun dari sisi vegetasi sangat kentara perbedaanya. Puncak Tipuan masih didiami oleh Cantigi dan semak. Sedangkan Puncak Ogal Agil tak bervegetasi sama sekali, selain tumpukan batu besar.



Sedikit mengecewakan memang, namun untuk sampai di Ogal Agil kita harus menuruni lembah yang terjal, lalu menanjak kembali ke atas. Perjuangan belum berakhir Bung.



Turunan dalam mendaki gunung, akan digangtikan oleh tanjakan yang lebih tinggi dan itu pasti. Saat kita terjatuh, tentu akan lebih berat untuk bangun. Maka di sinilah kita saling menyemangati, puncak sudah nampak.

Puncak Ogal Agil, mendapatkan namanya karena ada satu batu berbentuk kursi yang diyakini merupakan singgasana Arjuna yang posisinya mesle, sehingga goyang saat diduduki. Kepercayaan kami, batu ini jangan diganggu. Tetapi batu itu yang mana, sampai sekarang belum kami temukan. Cirinya ada lambang cakra. Tetapi dengan jumlah batu sebanyak ini, dan kebahagiaan yang menggelora, batu ini luput dari pandangan. Entah ada, entah tidak kami belum menemukan.



Arjuna memiliki ketinggian 3339 mdpl, menjadikannya gunung tertinggi ke dua di Jatim setelah Semeru. Puncak Arjuna yang tenang dan diam dalam balutan kabut tiada henti seakan menghalangi pandangan ke arah jauh, namun sekaligus memberi arahan untuk memandang jauh ke dalam diri.




Namun yang sangat disayangkan Puncak Ogal Agil yang setinggi ini juga tak luput dari vandalisme parah. Hampir semua batu ada goresan segala spidol juga stipo yang menyakitkan mata. Kesederhanaan itu dicederai. Puncak Gunung sebagai puncak mandala, tempat suci sudah dinodai saat ini. Bagaimana dengan hati yang dalam ?



Lazimnya puncak gunung, Ogal - Agil pun ditandai dengan Bendera Merah Putih yang berkibar. Nampak bendera ini sudah diganti yang baru, namun karena cuaca ekstrim, bendera ini lebih cepat rusak. satu jam di Ogal - Agil adalah waktu yang cukup. Gantian dengan pendaki lain. Ogal Agil memiliki area yang relatif sempit. Kita harus berbagi, dan kita harus turun. Malam ini kita akan menginap di tenda yang masih tegak di Pondokan. Turunnya masih esok, kaki pegal jangan dipaksa. Saat turun dari puncak jangan terburu-buru, keterburuan akan menghasilkan ketersesatan terutama di Alas Lali Jiwo dan Lembah Kijang, apalagi saat melintasi malam. Kita harus tenang, setenang berangkat salat subuh jamaah di Masjid terdekat.




 Arjuna
Percayalah, engkau selalu muncul di setiap rindu
Engkau selalu ada dalam pandangan
Dan udaramu nan manis selalu ada di rongga dada
Memunculkan keinginan untuk kembali pada pelukan

Related Posts