Goa Selomangleng, Menyapa Kilisuci Belajar Memahami Jati Diri

shares


Gua Selomangleng, Kota Kediri. Bisa dibilang aku ke sini sudah beratus kali. Sejak aku masih kecil sampai sekarang, seminggu bisa sampai 3 kali. Namun dulu masuk ke dalamnya adalah tabu. Alasannya gelap, dan yang paling parah didekap setan sampai tak bisa pulang. Ada juga para orang tua yang mengatakan itu tempat mistik, dan jika masuk ke lorong selatan, kau akan sampai ke Parangtritis. Bayangkan cerita itu pada saat engkau berusia enam tahun, yang bahkan engkau enggak tahu dimana Parangtritis itu berada. Alahasil, dulu kalau ke sini hanya naik ke atasnya, memutari bukitnya, dan paling kenceng anguk - anguk di mulut gua. Saat sudah tau dimana itu Parangtritis, rasanya cerita itu semakin hebat saja.

Gua Selomangleng ini adalah gua buatan manusia dengan memanfaatkan blok batu besar di lereng Bukit Klotok, Kaki Gunung Wilis. Dan dari posisi batu ini berada, gua ini mendapatkan namanya : Selomangleng, yang berarti batu lereng gunung yang menumpang pada kaki bukit. Betapa susahnya menjelaskan kata mangleng ke dalam Bahasa Indonesia, serupa dengan menjelaskan kata : Kejlungup atau Kunduran.

Nyatanya setelah aku SMA, aku baru tau apa yang ada di dalam gua ini. Dan dari Selomangleng, aku tahu apa itu relief dan bagaimana bentuknya. Relief Selomangleng adalah relief pertama yang aku lihat dan aku sentuh. Sempat aku membawa senter ke sini untuk tahu bagaimana relief - relief itu. 


Pagi itu, tiga keponakanku ribut minta renang. Kolam renang terdekat dengan biaya paling murah adalah kolam milik pemkot. Lokasinya satu komplek dengan Selomangleng. Kawasan ini dikembangkan dengan tidak maksimal sebagai Kawasan Wisata Unggulan Kota Kediri : Selomangleng. Kawasan ini sebenarnya sangat menarik dan keren. Namun, kurang mempunyai pola dasar pengembangan yang tepat, alias seperti kehilangan jati diri. Gua Selomangleng yang kebetulan berada di paling ujung dari komplek ini seakan tenggelam dengan hiruk pikuk yang salah arah. Adanya Museum Airlangga sebenarnya menegaskan bahwa kawasan ini bersama situs lain terdekat yakni Situs Boncolono dan Pura Agung Penataran Kilisuci sebenarnya lebih cocok diarahkan sebagai kawasan konservasi sejarah. Belum ditambah adanya situs Gua Selobale, Gua Padedean, dan Candi Klotok, dapat menjadikan tempat ini sebagai gerpang masuk kesejarahan yang lengkap. Bukan bercampur dengan tempat wisata hiburan berupa kolam renang, arena bermain, dan pertunjukan dangdut. 

Setelah renang, sebenarnya mereka minta segera pulang. Tetapi, aku tak ingin sejarah masa kecilku terulang kembali ke mereka, tabu akan Gua Selomangleng ini. Mereka sebenarnya juga sudah sering ke sini, minimal setiap minggu pagi, untuk olahraga, beli pentol, atau memanjat ke atas gua. Kali ini, di usia mereka yang sama kayak aku dulu 8, 9 , dan 10 tahun, aku ajak masuk ke dalam Selomangleng untuk mengenal apa itu relief. 

Semula, mereka mengeluh : untuk apa om ? Takut ah om !. Namun, dengan iming - iming segala hal, akhirnya mau. Goal pertama, mereka pernah masuk dan melihat bahwa gua ini cantik dan perlu dipelajari. Supaya enggak kehilangan jati diri.


Bagian paling depan dari areal  Gua Selomangleng adalah pelataran yang lumayan luas. Pelataran ini dilindungi oleh pohon - pohon besar di sekelilingnya, sayang salah satunya baru ambruk ke arah tenggara, menimpa pagar luar kolam renang. Pelataran ini biasanya digunakan untuk pertujukan seni dan upacara ritual.

Ada beberapa artefak berserak di pelataran ini, tepatnya di kaki gua. Artefak itu berupa dua potongan fragmen yang kemungkinan adalah kaki suatu bangunan, satu arca dwarapala tanpa kepala, dan batu gilig berbentuk sepeti belimbing wuluh.


Bisa diperkirakan bahwa artefak berserak ini merupakan pecahan meja altar dan dwarapala arca penjaga Gua Selomangleng pada awal pendiriannya. Dwarapala Selomangleng memiliki ukiran detail yang lengkap. Dwarapala ini dalam posisi duduk jongkok satu kaki di atas batu yang berukir tengkorak. Selain membawa gada, Dwarapala ini juga memegang cambuk. Cambuk ini cukup panjang, dipasang dari genggaman tangan, ke atas pundak, lalu menuruni punggung secara diagonal, melingkar dipinggang, melewati perut dan ujungnya ada digenggaman pada tangan yang sama. Pakaian dan asesorisnya cukup lengkap, dari kain yang menutup pinggang sampai lutut yang dikunci dengan sabuk, gelang kaki, gelang tangan, dan ikat lengan serta penutup dada berupa kalung yang cukup lebar. Rambut yang ada di punggung menunjukan rambut ikal panjang melingkar - lingkar. Selain itu, dwarapala ini juga memakai ikat dada. 


Patahan meja altar yang sekarang ditempatkan kiri dan kanan menampilkan sebuah keambiguan menjadi sepasang patahan gapura. Pada patahan ini dihias motif suluran daun dan motif berawan.


Kaki gua sudah di hiasi oleh hiasan awan yang terus berlanjut hingga ke ruang - ruang dalam gua. Awan - awan ini mengingatkan akan tempat tinggi di atas awan berupa kahyangan. Aku tak berspekulasi kalau gua ini sebagai kahyangan, namun gua ini sebagai tempat meditasi yang tak lain adalah tempat belajar, merenung, menenangkan diri untuk mendapatkan barokah serta petunjuk Gusti Allah yang ada di kahyangan. Atau juga bisa diartikan sebagai tempat belajar yang utama ( tinggi ) semacam tempat pendidikan spiritual paripurna.

Ada pula pemikiran bahwa ini bukan awan melainkan kabut yang menutupi suatu kebenaran. Sehingga agar mendapatkan kebenaran hakiki, dibutuhkan mata yang tajam dan pengetahuan yang tinggi.


Pada dinding depan sekitar 5 meter dari mulut gua terdapat sebuah ceruk dengan tinggi setengah meter, sepertinya merupakan relung untuk arca atau mungkin juga tempat pedupaan. Sepanjang dinding dari ceruk menuju pintu gua juga dihiasi relief awan.



Gua Selomangleng memiliki dua pintu masuk kiri dan kanan. Ukuran pintu ini cukup tinggi dan lebar, sehingga memudahkan untuk masuk. Namun dari bagian lantai gua, nampak kalau sebenarnya lubang mulut gua ini diperlebar dengan cara dicongkel. Menurut cerita orang tua, memang pintu ini tak selebar sekarang. Pintu kiri memiliki bentuk mendekati lingkaran, sedangkan pintu kanan berbentuk mendekati persegi dengan gerigi di langit - langit yang berhiaskan relief awan.

Gua Selomangleng mempunyai empat ruang, terbagi dua di kanan dan dua di kiri. Dua ruangan dapat dilihat tanpa bantuan senter, dan dua lainnya gelap gulita tak tembus cahaya.

Ruang Pertama ( Ruang Pertapa )

Mulai penelusuran melalui pintu sebelah kiri. Didekat pintu ini terdapat relief besar berbentuk kepala naga. Kepala naga ini bernama Butolohcolo, penjaga setia Dewi Kilisuci. Naga dalam cerita pewayangan merupakan ujian kemantapan hati dalam melaksanakan tugas atau laku spiritual. Seperti dikisahkan dalam cerita Dewa Ruci, dimana Sang Werkudara diperintahkan Guru Drona untuk mencari air suci di laut, namun dalam perjalanan dia dihadang Naga yang selanjutnya menguji keteguhannya. Sayang kondisi relief naga ini sudah tidak utuh. Lehernya tampak dicongkel dan ujung mulutnya terpotong. Ada yang bilang ujung mulut atau congor nogo ini terbuat dari batu mulia, sehingga itulah sebabnya batu itu dipotong alias dicuri. Relief naga ini dibingkai dengan relief awan. 



Ruang pertama ini merupakan ruang dengan hiasan paling banyak dibanding ruang - ruang yang lain. Sentral point dari semua relief di ruang pertama adalah relief pertapa.



Relief pertapa ini berada di tengah dan ditempatkan di atas batur, serta dibingkai dengan relief awan.Jika ditilik lebih jauh, pertapa ini adalah sosok perempuan, sehingga dikaitkan dengan sosok Dewi Kilisuci. Posisi pertapa ini duduk bersila dengan tangan bertemu di bawah pusar. Tampak menggunakan pakaian sederhana dan tanpa perhiasan, sedangkan rambut tampak diurai. 

Sebelah kanan terdapat relief manusia laki -laki dan perempuan di dalam sebuah bangunan sedang melakukan hubungan intim. Di bawah bangunan ada figur manusia yang menopang bangunan, dan di sebelahnya ada seorang penari. Hiasan berupa pagar dan tanaman turut menghiasi relief ini.



Jika ditilik lebih dalam relief di sebelah kanan ini adalah penggambaran kesenangan duniawi, yakni nafsu syahwat dari adegan figur laki -laki dan perempuan berhubungan intim. Kemudian nafsu menguasai dari gambar manusia menopang bangunan. Manusia di bawah bangunan ini menunjukan bahwa manusia tersebut dikuasai orang di atas bangunan, dan melakukan apapun sesuai perintahnya demi kesenangannya. Orang menari mewakili nafsu bersenang-senang. 

Sebelah kiri relief pertapa, terdapat relief pegunungan dan ceruk tempat pelita di bagian atas. Relief pegunungan ini menunjukan akan kondisi lingkungan duniawi yang indah. Selain itu relief pegunungan yang memanjang sampai pintu ruang di sebelahnya ini juga berarti medan yang tidak mudah dan panjang untuk sampai pada pencerahan batin atau keberkahan Gusti.

Maka jika dipandang menyeluruh pertapa sedang menghindarkan diri dari godaan nafsu dan keindahan duniawi untuk mendapatkan ketenangan batin, serta mencari makna hidup melalui jalan menyepi ke pegunungan dengan medan yang sulit. Medan sulit bukan hanya mewakili medan pegunungan secara denotatif tetapi juga medan pikiran yang saling bersilang tentang.



Ruang Ke-Dua ( Ruang Budha )

Ruang Ke-Dua berada di sebelah kiri ruang pertama. Ruangan ini memiliki lantai yang lebih tinggi sehingga dibuatkan anak tangga. Tinggi pintu juga lebih pendek daripada pintu utama. Baik di kanan maupun di kiri pintu dihiasi dengan relief pegunungan. Kondisi di dalam ruang ini gelap, sehingga membutuhkan bantuan cahaya senter. Namun saat memandang pintu ruang ini, seluruh keponakanku kalang kabut minta keluar, saat aku minta memegangkan HP untuk menyalakan senter, mereke menolak dan buru-buru ke arah pintu utama. Alasannya takut dan merasa sesak napas. 



Hiasan pada ruang ke dua ini adalah Relief Budha yang sedang bertapa dengan sikap tangan Dharma Cakra Mudra yang melambangkan gerak memutar dharma. Di sekeliling kepala budha tersebut ada hiasan lingkaran melingkar dengan pahatan ke dalam, seperti lambang cahaya.
Menilik dengan relief sebelumnya, maka pertapa dengan laku spiritualnya sudah mendapatkan pencerahan. Selain relief tersebut, kesemua dinding ruang ke dua kosong tanpa hiasan.

Ruang Ke-Tiga ( Ruang Garuda )



Untuk menuju ruang ke tiga, kita perlu kembali ke ruang pertama dan melalui pintu penghubung yang berbentuk lingkaran penuh hiasan awan, tanpa perlu keluar gua. Di sebelah kiri pintu ini terdapat bentangan panjang relief yang padat, rapat, dan berbagai figur. Bentangan ini dipisahkan oleh sebuah tiang dengan pondasi yang besar, dengan ujung justru ditutup oleh gambar pohon beringin. Sebelah kiri dari pembatas ini menampilkan gambar yang menyenangkan berupa bangunan-bangunan indah berikut taman dan pemandangan alam beserta figur-figur manusia yang tampak bahagia, serta ada gambar senjata berupa pecut. Ini merupakan gambaran surga atau kahyangan, sedang cemeti itu merupakan bentuk usaha yang tak kenal lelah untuk mencapainya. Sedangkan gambar sebelah kanan, justru menggambarkan hal yang mengerikan. Ada dua figur orang tergeletak dan beberapa gambar tengkorak yang terbakar api. Ini seperti penggambaran neraka.



Jika pada ruang pertama pandangan akan mengarah ke pertapa, di ruang ini justru setelah masuk dari pintu utama sebelah kanan, hanya ada dinding kosong. Namun dasar dinidng dibuat lebih tinggi, setinggi lutut, yang bagian paling kanan dekat tembok pembatas kanan dibuat lebih tinggi lagi. Bidang ini seperti amben lengkap dengan bantal. 

Dinding baik di kanan atau di kiri di hiasi oleh relief awan. Pada bagian atas pintu sambungan ke ruang satu ada relief garuda memegang ular. 



Relief ini menggambarkan kebaikan yakni garuda atau garudeya dan kebatilan yakni ular sedang bertarung. Pertarungan ini adalah pertarungan keabadian tiada akhir. Relief ini mewakili simbol Dewa Wisnu. Relief ini menjadi reilef ikonik di ruangan ini.

Ruang ke-Empat ( Ruang Pedupaan )



Ruang ke empat berada di sebelah kanan ruang ke tiga. Sebelum memasuki ruang ke empat, kita harus melewati pintu tinggi dengan hiasan kala di atasnya, dan hiasan medalion di kanan dan di kiri pintu.



Kala pada pintu ini memiliki tangan dalam posisi penggenggam. Selain itu juga memakai kalung dan dibingkai dengan relief awan. Pada kusennya terdapat relief suluran.




Ruang ke empat memiliki bentuk kubus, berbeda dengan ruang ke dua yang berbentuk setengah lingkaran. Persamaannya sama - sama gelap. Namun ruang ke empat lebih pengab, dan terdapat banyak bekas jelaga, asap dari pedupaan bertahun-tahun yang turut menutup relief. Relief pada ruang ini samgat tipis, yang paling menonjol adalah adanya meja pemujaan yang bawahnya berongga. Diduga rongga ini merupakan tempat pedupaan. Hiasan di kanan kiri meja pedupaan ini berbentuk seperti perisai, dan di atas meja pedupaan hanya terdapat hiasan bingkai, namun apa yang dibinglai tak tampak. Mendekati langit - langit kanan atas ada relung tempat pelita. 

Aku tak sempat menilik lebih jauh karena keponakan keburu meraung merasa semakin takut. Tetapi setidaknya aku sudah mengajak mereka ke sini dan menjelaskan kalau ini bukan tempat tabu. Kita perlu menghormati dan ada pelajaran di sini. Gua Selomangleng ini nyatanya juga monumen toleransi tingkat tinggi pada masanya antara pemeluk agama Budha, diwakili dengan adanya relief Budha di ruang ke 2 dan Hindu, diwakili relief simbol Dewa wisnu pada ruang ke tiga. 

Sebelum pulang, aku sempat mengambil gambar keponakan di dalam dan pelataran gua. Aku memberi judul : Kami Tidak Takut Belajar Sejarah.



Keponakan pemberani jagoanku, ada Putra, Radit, dan Aufa juga Alfan yang datang belakangan. Kita harus berani belajar, dan menghormati sejarah kita sendiri.



Hanya Aufa yang sudi di foto di depan pintu ruang ke IV, itupun dengan ekspresi ketakutan dan segera ingin pulang. Oke adik - adik kita pulang, sebelumnya mari kita makan siang. Semoga kalian berkesan dan hari ini tak terlupakan.




Selomangleng
Ilmu dan Ibadah tak boleh oleng
Jangan juga kepala dan hati kosong seperti kaleng

Kediri
Kemana pun pergi
Engkau tempat untuk kembali



Gua Selomangleng adalah salah satu dari tiga mandala yang ada di Bukit Klotok. Sama seperti kosmologi Borobudur yang terdiri dari Kamadatu, Rupadatu dan Arupadatu, maka Gua Selomangleng adalah Kamadatu. Sebagai Kamadatu maka tak heran jika di sini banyak sekali hiasan relief untuk membantu para pertapa untuk memulai perjalanan spiritual tingkat dasar. Rupadatu diwakili oleh Gua Selobale yang ada di atas bukit belakang Selomangleng yang memeiliki hiasan Arjunawiwaha, yakni Arjuna bertapa diganggu bidadari, yang melambangkan proses perjalanan spiritual tingkat menengah yang sudah mencapai pencerahan namun masih terikat rupa dan bentuk. Sedangkan tingkatan paling atas, atau Arupadatu, diwakili oleh Gua Padedean yang berada di atas bukit belakang Gua Selobale. Gua Padedean memiliki bentuk relung persegi panjang dengan ukuran kurang lebih panjang 3 meter, tinggi 2 meter dan dalam 1,5 meter dengan tanpa hiasan apapun, yang menggambarkan pencapaian pencerahan spiritual tertinggi yang sudah tidak tergantung lagi pada rupa dan bentuk.

Related Posts