Menyibak Awan, Menjamah Desa Wae Rebo

shares


Desa Wae Rebo

"Serpihan surga diatas awan", begitu traveler sering menyebut desa ini. Terletak 1200 meter di atas permukaan laut, menuju Desa Wae Rebo seperti menyibak awan untuk menikmati keindahannya.

Tidak mudah untuk mencapai Wae Rebo bagi pendaki pemula yang hanya sesekali naik gunung. Perlu keringat yang lebih banyak daripada biasanya untuk mendakinya. Namun pemandangan yang luar biasa indah akan menyapu bersih rasa capek dan dahaga yang kita rasa. 

Terletak di sebelah barat daya kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Desa Wae Rebo terletak di atas gunung. Kendaraan bermotor hanya mampu mengantarkan kita sampai titik awal pendakian, sekitar 7 kilometer sebelum masuk desa Wae Rebo. Setelah itu, kita hanya bergantung pada kekuatan kaki dan nafas di dada untuk melanjutkan perjalanan dengan trek yang curam selama 3 sampai dengan 4 jam. 

Untuk menuju ke Desa Wae Rebo, pengunjung harus memulai perjalanannya dari Ruteng. Jika dari Kupang, bisa langsung menuju Ruteng lewat jalur udara. 

Opsi lain, dapat mengambil penerbangan dari Denpasar (Bali) menuju Labuan Bajo (NTT) lalu melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus atau travel menuju Ruteng yang memakan waktu sekitar 4 sampai dengan 5 jam. 
Sesampainya di Ruteng, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Desa Denge atau Dintor selama 2 jam. Melalui jalan terjal berbatu dengan menggunakan truk kayu atau warga lokal menyebutnya "otto kayu" yang dapat di temukan di Terminal Mena sekitar pukul 09.00 sampai 10.00 pagi. 

Opsi kedua adalah dengan ojek dari Ruteng menuju Desa Denge. Ojek menjadi alternatif perjalanan jika anda tertinggal jadwal otto kayu. Dengan tarif yang lebih mahal, bisa mencapai Rp 150.000 sampai dengan Rp 200.000 sekali jalan. 

Jauh berbeda jika menggunakan otto kayu yang hanya dikenakan tarif Rp 30.000 sampai dengan Rp 50.000 per kepala. 

Sampai di denge, ada sebuah home stay yang dapat digunakan untuk menginap. Dekat dengan home stay tersebut terdapat pusat informasi dan perpustakaan. 


Setiba di Desa Wae Rebo, sambutan dari penduduk yang ramah dan pemandangan indah seolah menghapus kelelahan yang didapat dari perjalanan panjang dari Desa Denge.  

Disini kita tidak akan menjumpai home stay atau penginapan, karena disini hanya terdapat 7 rumah adat saja, atau penduduk Desa Wae Rebo menyebutnya Mbaru Niang. Tapi kita bisa menumpang di rumah adat milik masyarakat untuk menginap. 


Terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut dari ilalang yang dianyam, ketujuh rumah adat ini sudah bertahan turun temurun selama 19 generasi. 

Tujuh Mbaru Niang bersusun membentuk setengah lingkaran mengitari tanah lapang yang luas dengan bukit-bukit indah di sekeliling Desa Wae Rebo. Terletak di atas gunung, Desa Wae Rebo memiliki hawa yang sejuk menusuk kalbu, mengingatkan kehidupan yang tenteram tanpa polusi di masa lalu. 



Selain daya tarik rumah adat, kehidupan masyarakat Desa Wae Rebo juga menjadi daya tarik tersendiri. Sebagian masyarakat bercocok tanam dan wanitanya membuat tenun. Selain itu, ada pula yang mengelola kebun kopi. Kopi Desa Wae Rebo merupakan salah satu kopi terbaik di daratan Flores. 

Desa Wae Rebo merupakan situs bersejarah warisan budaya dunia yang ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 2012 yang lalu. 

Related Posts