Air Terjun Tretes, Pancuran Dari Kahyangan

shares



Kemarau, waktu yang tepat mencari kesejukan hati, batin juga raga. Tanpa ada rencana, setelah mendengar namanya sejak lama, aku ingin menyapanya : Tretes Wonosalam Jombang.

Aku berangkat dengan Wicak, menaiki tunggangan perangku yang kuberi nama : Hayati, Supra 125. Jalanan Soerabaja-Mojoagung penuh dengan debu. Lalu memasuki Bareng, Wicak mulai ragu, namun GPS cukup membantu sampai desa terakhir di Wonosalam nan sepi. Area Perkemahan Wonosalam ini sepi, sedangkan warung sebelahnya hanya ada dua lelaki sedang ngopi. Boleh juga mampir sarapan, sebelum menanjak yang kata wicak satu jam saja. Menunya Pecel seadanya. Ternyata dua pemuda dari Pare itu sudah turun dari Tretes, mengeluh akan panjangnya perjalanan, bahkan menyarankan kami kembali karena sudah siang. Waktu itu memang sudah tak bisa dikatakan pagi, karena sudah menunjuk pukul 13.00 hehehe. Namun karena sudah sampai sini, bolehlah dicoba. 

Pemilik warung mengatakan ada parkiran motor di atas, yah kami tentu memilih parkir di atas. Semula ada parkir kebon salak, namun kami ragu mau parkir di sini karena terkunci. Lalu kami menanjak bersama hayati sampai Wicak harus turun karena terjal, dan perlu diketahui jalan yang kami lalui adalah jalan setapak. Kiri tebing, kanan jurang amazing. Kami menemukan sebuah gubuk. Betul hendak kami parkir di sini, namun ada tulisan : Tretes 3 km lagi, yah Hayati harus membantu kami sekali lagi. Setelah 500 meter, kami menemukan parkiran terakhir yang hanya dijaga ibu-ibu muda.


Ok Welcome to the Jungle Gaes. Setelah memarkir motor, kita perlu melewati jembatan kayu. Dan jembatan ini juga merupakan batas kebun warga dengan kawasan Tahura soerjo. 


Aliran sungai ini cukup deras, tanda bahwa air terjun juga memiliki debit yang baik. Saat main ke air terjun dan mendapati sungai kering berarti air terjun juga akan mati, biasanya di kawasan kapur saat musim kemarau. Dan jika sungai meluap, maka sebaiknya anda pulang.


Di tengah perjalanan, kita akan menemukan pos ijin memasuki kawasan Tahura Soerjo, waktu itu pos sudah tutup alias tak ada yang menjaga. Selanjutnya jalur nan lebar ini akan berganti setapak. Jalur hutan rapat di barat Gunung Anjasmoro.


Hutan kawasan ini masih sangat lebat. Nampak di tengah jalur kita menemukan kopi bercampur feses, bisa jadi ini kopi luwak. Di dahan nan tinggi banyak burung bertengger mesra. Namun kabut datang tanpa diundang.


Saat kabut menyibak, di antara pohon - pohon kita melihat sebuah selendang putih jatuh dari atas tebing. Ya itulah Tretes, air terjun  tertinggi di Jatim dengan ketinggian 200 meter. Jauh lebih tinggi dibanding Madakalipura ataupun Sedudo.


Air terjun semakin dekat, sudah tak sabar untuk mandi. Tretes betul-betul tersembunyi, dan siang itu tidak ada pengunjung lain, selain aku dan Wicak.


Kabut tebal yang memotong penglihatan di tengah tegakan air terjun memberi efek dramatis nan nyata. Seakan memang air ini dari kahyangan, dari langit langsung jatuh ke bumi.


Kabut ini juga membuat siang tak terasa, justru seperti pagi. Segar, betul menyejukan mata. Apalagi tak ada sampah plastik sama sekali. Indah dan bersih. Semoga terjaga, seperti iman para pujangga.


Kolam di bawah air terjun tidaklah dalam, hanya sedalam pinggang. Aman untuk selami, eh untuk renang ala-ala. Namun, sebagai pengunjung yang baik jangan meninggalkan sampah. Ingat pesan Wicak : Ojok dirusuhi Bro..


Mau ambil gambar dari sudut manapun tetap indah, dan pangkal air terjun tetap tak akan kelihatan. Air terjun ini bersumber dari sumber yang ada di lerang Anjasmoro, salah satu gunung yang sangat jarang didaki.


Mencapai tempat ini adalah sebuah anugerah yang patut disyukuri. Dan kami berdoa, agar tretes selalu terjaga dalam hutannya yang lebat. Monyet dan segala satwa nya turut terjaga pula.


Aku memandang Tretes tanpa jemu, tanpa kedip. Aku menikmati airnya yang dingin untuk mandi, wudu, dan minum. Airnya manis. Sembahyang di depan air terjun ini merupakan pengalaman yang berbeda. Sembahyang di atas batu tunggal. Syukur seakan menghujam dalam bak deburan air terjun dari atas menuju bawah, dan doa terbang bak buih air yang melayang bebas. 


Tretes, ah kau seperti berkata jangan pergi. Nikmati aku, jamah aku lagi, kan ku bekap engkau dalam kesejukan tiada habis. Maaf Tretes, sebagaimana aku datang, aku tentu akan pergi. Terima kasih hari ini, aku siap berlari lagi, menyelsaikan tugas bernama skripsi. 


Tretes
Air mata ini selalu menetes
Bila ku ingat engkau yang menunggu
Tretes 
Engkau tahu, aku juga menunggu
Menunggu waktu yang tepat untuk menyapamu 
Tretes
Engkau tahu, aku tanam ceplok piring kuning di halaman
Agar aku ingat padamu, agar engkau dekat denganku
Sedekat ceplok piring kuning di depanmu

Related Posts